Saya terpesona dengan riwayat dan karier intelektual Annemarie Schimmel. Beliau ialah penulis Barat yang otoritatif ihwal mistisisme Islam dan sejarah Nabi Muhammad shalla Allah 'alaih wa sallama. Karya- karya Jalaluddin Rumi, Al- Hallaj, dan Sir Muhammad Iqbal dapat dipahami dengan baik dan utuh lewat karya brilian Annemarie Schimmel. Annemarie Schimmel menggambarkan perjalanan hidup dan karier akademiknya lewat artikel " A Life of Learning". Bahwa hidup ini ialah seluruhnya ialah proses untuk terus belajar. Tiada kata final untuk berguru sebagaimana halnya tidak ada kata final untuk kehidupan.....althought it seems that the time of learning might now draw to aclose, yet I understand that every moment-- event the most unpleasant one -- teaches me something and that every experience should be incorporated into my life to enrich it. For there is no end to learning as there is no end to life. Schimmel juga mengutip Sir Muhammad Iqbal bahwa " Surga ialah tidak ada hari libur....Heaven is no holiday". Belajar bagi aku ialah mentransformasikan pengetahuan dan pengalaman menjadi kearifan dan cinta. Learning is to me, transforming knowledge and experience into wisdom and love. Jasa terbesar Annemarie Schimmel ialah membawa "realitas" Islam ke dunia Barat....terinspirasi dengan catatan: in Memoriam: Annemarie Schimmel, Briring the reality of Islam to the West, 2003. Bahwa saat aliran kontroverial Ayatollah Khomeini ihwal eksekusi mati bagi Salman Rusydie. Oleh Ayatollah Khomeini, Salman Rusydie telah menghina Islam dan Nabi Muhammad Shalla Allah 'alaih wa sallama lewat novelnya, The Satanic Verses, Ayat- ayat Setan. Annemarie Schimmel lewat komentarnya di Televisi dapat memahami aliran Khomeini tersebut. Beliau juga menyatakan dapat memahami perasaan umat Islam ihwal penghinaan kepada nabinya. Atas pernyataan simpatik Annemarie Schimmel ini, ia dituding telah mendukung Islam garis keras. Bahwa ia menulis buku banyak ihwal Iran, tetapi tak satu pun yang ia tulis ihwal kekerasan yang terjadi di negeri Persia tersebut. Atas komentar Annemarie ini, filosof Jurgen Habermas juga menyalahkannya. Tetapi Schimmel tetap saja pada pendiriannya. Ia tetap pada pandangan bahwa agama Islam ialah rahmatan li al- 'alamin. Dan Muhammad ialah utusan Allah dan kekasih- Nya. Professor Schimmel bekerja dengan penuh energi. Ia menulis dengan penuh passion. Cinta yang menggelora. Pada wawancara bulan Desember 2002, ia masih menghabiskan waktu untuk menulis dan membaca di perpustakaan 12 hingga 13 jam per- hari. Ketika usia ia sudah mencapai 80 tahun. Ketika ditanya ihwal rencana masa depannya, kalau ia dikaruniai umur yang panjang, ia mengutip sastrawan Ruckert: " If I am to live another ten years, I have enough work to do. If I am to die tomorrow, I have worked enough." That's very simple". Berbuat dam bekerjalah yang terbaik selama hayat masih dikandung badan. Halsama juga pernah ditanyakan kepada seorang tokoh hadis terkemuka, Prof Musthafa A'zamy. Ketika ia sudah uzur dan berumur di atas 80 tahun. Beliau masih sangat energik dan menghabiskan waktunya lebih sepuluh jam per hari untuk mengkaji dan meneliti hadis. Lalu, ditanya, mengapa ia demikian berpengaruh untuk belajar. Apa rahasianya, mengapa ia mempunyai fisik yang demikian kuat. Ia menjawab, bahwa barangkali alasannya semenjak kecil, ia hidup di desa. Setiap paginya harus melewati pematang di sawah, dan menciptakan fisiknya tambah kuat. Kita berharap akan terus bertemu denang tokoh- tokoh pembelajar seumur hidupnya.
Advertisement