Hidup senang sangat ditentukan pada perspektif kita. Suatu hari saya menghadiri pertemuan dengan Fakultas Ushuluddin UIN SAS, Surabaya. Sebelum saya memasuki ruangan, saya sudah membayangkan wajah sedih dan tidak senang para dosen tersebut. Barangkali, alasannya pengalaman berinteraksi dengan umumnya dosen Ushuluddin yang kurang mahasiswa, dan prodi-prodi yang dikembangkannya bukanlah prodi yang laris- manis ibarat Ilmu Kedokteran, Keperawatan dan Psikologi. Beberapa menit kemudian, ternyata perkiraan saya keliru. Ternyata para dosen yang saya temui ialah orang- orang yang menikmati kehidupan. Di antara mereka saling "melempar" humor. Setiap statement saya selalu "dibumbui" dengan humor- humor segar yang tentu " menghangatkan" suasana. Saya merasa, suasana waktu itu sangat cair. Suasananya friendly. Sangat bersahabat. Sejurus kemudian, saya mempersilakan mereka untuk menikmati coffee break. Ya, ada yang eksklusif nyeletuk. Mumpung kopinya masih aktual. Apa rahasinya? Rupanya mereka mempunyai perspektif tersendiri dalam menjalani kehidupan ini. Ya perspektif. Bahwa setiap pengalaman dalam kehidupan haruslah memperkaya kehidupan. Bahwa pengalaman akan menciptakan kita lebih bakir dan bertumbuh menjadi lebih dewasa. Kalau lagi mempunyai banyak uang dan kelimpahan rezeki, perbanyaklah bersyukur. Sebaliknya, jikalau lagi terhimpit kesulitan hidup, bersabarlah. al-Ghaniy al- syakur, wa al- faqir al- shabur, sabda Nabi shalla Allah 'alaih wa sallama. Perspektif. Pertanyaan berikutnya, apakah agama masih merupakan sumber kebahagiaan? Atau agama justeru mengekang kebebasan manusia. Mengapa "yang asyik- asyik itu" dilarang? Mengapa seni dan keindahan biasa berseberangan dengan kebaikan berdasarkan (tokoh) agama. Mengapa rambut wanit harus ditutup. Mengapa wajah yang bagus juga harus disembunyikan. Mengapa tertawa dilarang? Saya teringat novel karya Umberto Eco, the Name of Rose. Bahwa petualangan dan detektif mencari misteri tewasnya para pembaca buku di sebuah perpustakaan tua. Setiap orang yang berhasil membuka lembaran tertentu pada buku renta itu, niscaya berakhir dengan kematian. Why? Ternyata di dalam buku filsafat tersebut tertulis pendapat filosof Yunani, Aristoteles, bahwa tidak boleh tertawa. Apakh benar kehidupan dunia ini ialah penjara baginseorang beriman, dan nirwana bagi orang kafir. Hadis ini ditulis dan dibahas dalam kitab al- Fath al- Rabbany karya syeikh Abdul Qadir al- Jailany. Kitab ini memuat 62 belahan yang berisi nasehat dan petuah- petuah agama biar insan tetap di jalan yang benar. Yakni dengan cara bertasawuf tetapi tetap menjalankan syari'at. Khusus belahan tadi memuat nasehat biar insan tidak tergelincir dan terperdaya oleh tipu mushlihat dunia. Dunia itu penuh pesona. Dunia bahkan oleh para sufi ditamsilkan ibarat ular. Ular lembut, tetapi harus hati- hati. Kalau sering bermain- main dengan ular berhati- hatilah sewaktu- waktu sanggup mematokmu. Untuk hidup senang harus kembali kepada spiritualitas Islam yang sangat kaya itu. Jalaluddin Rumi lewat kitab al- Mathnawi al- Maknawi, Fihi ma Fihi, dst akan membuka jalan lebar untuk menggapai hidup senang yang sesungguhnya.
Advertisement