Kunker yakni Kunjungan Kerja. Asyik juga mengikuti kunjungan kerja dewan perwakilan rakyat RI komisi 8. Ada banyak hal pengalaman menarik, antara lain:
1. Pengentasan kemiskinan di wilayah kepulauan dengan cara membentuk kelompok- kelompok kerja dalam skala kecil. Mereka ini mendapat derma 20 juta per unit. Mereka juga mendapat bimbingan dari pendamping yang sudah terlatih dan mempunyai konsern entrepreneur. Bahwa derma yang diberikan hanyalah stimulan untuk sanggup mengentaskan mereka dari kemiskinan. Filosofi hidup bahwa tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah menjadi dasar hidup untuk berkemakmuran.
al Yadu al a'la khair un min al yadi al sufla. 2. Kami juga mengunjungi Sekolah Menengah Pertama 2 Bintan yang ramah anak. Ada sekitar 500 an siswa dan siswinya. Hanya saja guru bimbingan konselingnya hanya dua orang.
3. Orang Bintan sangat piawai dalam menciptakan pantun. Memang mereka ini populer dengan kecakapan berpantun. Reflektif. Tanpa berpikir panjang mereka sanggup pribadi menyusun kata dan berpantun. Pantunnya juga mempunyai makna persahabatan dan pesan- pesan religius.
4. Kami juga mengunjungi Rumas Sakit Kawal, Kecamatan Gunung Kijang yang ramah anak. Begitu kita masuk rumah sakit ini, pribadi ada arena bermain anak. Seorang ibu sanggup berobat dan menitipkan anaknya di arena permainan tersebut. Kalau kebetulan yang sakit yakni anaknya, maka setidaknya anak tersebut sanggup terobati secara psikologis. Bahwa ternyata rumah sakit tidak selamanya menakutkan, tetapi ada rekreasinya. Ada arena bermainnya.
Kepala Puskesmasnya dalam memulai presentasinya di hadapan komisi delapan dengan pantun. Dan diakhiri pula dengan pantun. Burung Irian burung cenderawasih. Cukup sekian dan terima kasih.
5. Pada siang hari, kami berkunjung ke STAI Abd Rahman, Kepri untuk melihat persiapan penegerian kampus ini. Saya mendapat gosip bahwa sekolah tinggi ini sudah mendapat persetujuan dari Menteri Agama RI. Sekarang sedang proses pembahasan ortakernya di Kemenpan RB.
6. Kami juga bertemu dengan aparatur Pemerintah Daerah Provinsi Kepri. Ada banyak yang hadir. Yang mewakili pak Gubernur yakni bu pjs Sekda. Hal- hal yang menarik yakni bahwa di Kepri sudah ada sekitar 22 sekolah tinggi tinggi. Sayang bu Sekda lupa menulis sekolah tinggi tinggi kegamaan di Pulau Bintan sendir, STAI Natuna, STAI Ibnu Sina Batam. Walhasil, wilayah perbatasan ini memang sangat penting untuk mendapat perhatian. Sebab, 65 persen penghuni lapas adslah anak- anak terutama mereka yang berdomisili di wilayah perbatasan.
1. Pengentasan kemiskinan di wilayah kepulauan dengan cara membentuk kelompok- kelompok kerja dalam skala kecil. Mereka ini mendapat derma 20 juta per unit. Mereka juga mendapat bimbingan dari pendamping yang sudah terlatih dan mempunyai konsern entrepreneur. Bahwa derma yang diberikan hanyalah stimulan untuk sanggup mengentaskan mereka dari kemiskinan. Filosofi hidup bahwa tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah menjadi dasar hidup untuk berkemakmuran.
al Yadu al a'la khair un min al yadi al sufla. 2. Kami juga mengunjungi Sekolah Menengah Pertama 2 Bintan yang ramah anak. Ada sekitar 500 an siswa dan siswinya. Hanya saja guru bimbingan konselingnya hanya dua orang.
3. Orang Bintan sangat piawai dalam menciptakan pantun. Memang mereka ini populer dengan kecakapan berpantun. Reflektif. Tanpa berpikir panjang mereka sanggup pribadi menyusun kata dan berpantun. Pantunnya juga mempunyai makna persahabatan dan pesan- pesan religius.
4. Kami juga mengunjungi Rumas Sakit Kawal, Kecamatan Gunung Kijang yang ramah anak. Begitu kita masuk rumah sakit ini, pribadi ada arena bermain anak. Seorang ibu sanggup berobat dan menitipkan anaknya di arena permainan tersebut. Kalau kebetulan yang sakit yakni anaknya, maka setidaknya anak tersebut sanggup terobati secara psikologis. Bahwa ternyata rumah sakit tidak selamanya menakutkan, tetapi ada rekreasinya. Ada arena bermainnya.
Kepala Puskesmasnya dalam memulai presentasinya di hadapan komisi delapan dengan pantun. Dan diakhiri pula dengan pantun. Burung Irian burung cenderawasih. Cukup sekian dan terima kasih.
5. Pada siang hari, kami berkunjung ke STAI Abd Rahman, Kepri untuk melihat persiapan penegerian kampus ini. Saya mendapat gosip bahwa sekolah tinggi ini sudah mendapat persetujuan dari Menteri Agama RI. Sekarang sedang proses pembahasan ortakernya di Kemenpan RB.
6. Kami juga bertemu dengan aparatur Pemerintah Daerah Provinsi Kepri. Ada banyak yang hadir. Yang mewakili pak Gubernur yakni bu pjs Sekda. Hal- hal yang menarik yakni bahwa di Kepri sudah ada sekitar 22 sekolah tinggi tinggi. Sayang bu Sekda lupa menulis sekolah tinggi tinggi kegamaan di Pulau Bintan sendir, STAI Natuna, STAI Ibnu Sina Batam. Walhasil, wilayah perbatasan ini memang sangat penting untuk mendapat perhatian. Sebab, 65 persen penghuni lapas adslah anak- anak terutama mereka yang berdomisili di wilayah perbatasan.
Advertisement