-->

Menggugat Pendidikan (Islam) Indonesia

Menggugat Pendidikan (Islam) Indonesia
Menggugat Pendidikan (Islam) Indonesia
Pendahuluan Kita sedang prihatin dengan kegagalan pendidikan Indonesia kini ini. Bahwa ada yang salah dalam proses pembelajaran dan pendidikan kita. Halmana, penerima didik belum sepenuhnya sanggup mengemban amanah untuk bisa berpikir kreatif, berinovasi dan berdaya saing. Lebih-lebih lagi dengan kenyataan mudahnya tawuran antar pelajar. Negara kita sedang "Darurat Narkoba". Mencuatnya perilaku intoleransi di antara pelajar. Sarjana lulusan perguruan tinggi ternyata tidak siap kerja. Ini terjadi alasannya ialah terjadinya gap antara Pendidikan tinggi dengan dunia industri dan dunia kerja. Terdapat 6,2 juta lulusan Pendidikan tinggi yang tidak siap kerja. Mereka lebih banyak menjadi pengacara alias "pengangguran banyak acara". Fenomena apa ini? Apa yang salah dengan pendidikan kita. Apakah alasannya ialah guru- gurunya sudah jarang mendoakan murid- muridnya. Para guru sudah sangat asyik dengan sertifikasi guru? Atau para penerima didik yang memang sedari keluarganya sudah banyak masalah? Minim literasi. Atau masyarakat kita tengah "galau" dengan perubahan dan globalisasi. Kita tengah mengalami The Future Shock--meminjam istilah Alvin Toffler. Kita juga sedang mengalami disruption, gangguang sana- sini. Menggugat Pendidikan Menarik mengutip pandangan Ken Robinson bahwa peristiwa terbesar pedidikan cukup umur ini ialah pendidikan yang tidak membebaskan. Pendidikan yang tidak melahirkan insan merdeka. Tidak mendidik insan menjadi berdikari dan independent. Bahkan pendidikan ditengarai tak ubahnya sebagai alat dan sekrup kapitalisme. Pendidikan dikesankan sebagai alat untuk mencari makan, mengejar kekuasaan, dan untuk menggapai ketenaran. Peserta didik disodori soal-soal multiple choice. Mereka diarahkan untuk mencapai sasaran nilai dan indeks prestasi akademik tinggi. Pendidikan gagal untuk mengantar penerima didik untuk menemukan jati dirinya. Pendidikan sejatinya membebaskan menyerupai gagasan Paulo Freire. Pendidikan semestinya mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.Pendidikan harus bisa mentransformasi anak didik menjadi insan cukup umur yang berpengetahuan, berkepribadian, kreatif dan berakhlaqul karimah. Sebagai ikhtiar untuk mencetak penerima didik yang kreatif dan berinovasi, barangkali tepat untuk mengimplementasikan professional learning. Profesional learning yang dimaksud, pokok- pokok pikirannya sebagai berikut: 1. Anak- anak Indonesia banyak ilmu tetapi kurang praktek, action dan karakter. Oleh karenanya sejatinya pendidikan kita mengajarkan inovasi, kratifitas, critical thinking, action dan character. Karakter ini sebagai softskill sangat penting dan menuntun seseorang mencapai puncak kesuksesan. Dalam bahasa Agama, aksara ialah akhlak. Akhlak sangat utama bagi sebuah generasi bangsa. Innama al umamu akhlaqu ma baqiyat wa in humu zahabat akhlaquhum zahabu. Sebuah bangsa bisa survive jikalau akhlaknya masih tegak. Ketika susila sudah hancur, tamatlah bangsa itu. Demikian petuah Arab yang ditulis oleh Ibnu Ruslan. 2. Bangsa Indonesia dalam hal kehidupan islami ternyata berada pada posisi nomor urut 146 di dunia. Ini berdasarkan riset Hassan Askary. New Zealand menduduki peringkat pertama. Menurut pengalaman Haidar Baqir yang mondar-mandir di negara Selandia Baru ini, kalau kita kebetulan mau menyeberang jalan, kemudian tolah-toleh, maka orang -orang di sekitar kita akan dengan ramah bertanya, "Bapak mau ke mana?" Ia mengatakan diri sebagai tempat bertanya. Tentu pemadangan Haidar menyerupai ini sangat kontras dengan warga Jakarta dan kota metropolis lainyya yang serba sibuk dan sudah sulit bertanya. Kalau pun kita bertanya, biasanya mereka mengatakan balasan sekenanya. 3. Pendidikan kita harus mencreate multi kecerdasan, yakni logika, matematika, dan bahasa. Siswa yang cerdas bukan hanya yang jago matematika dan sains, tetapi juga bagi mereka yang mahir bidang bahasa atau olah raga. Multiple intelligence penting untuk diperhatikan setiap guru. Sebab, faktanya ada anak didik yang terlanjur diclaim anak terbelakang hanya alasannya ialah pelajaran matematikanya tidak memenuhi standar. Padahal yang bersangkutan mempunyai keahlian estetik atau kinstetik lainnya. Sehingga pada praktiknya, ada saja guru yang telah membunuh kreatifitas anak. Tanoa sadar guru itu telah membunuh masa depan anak tersebut. 4. Siswa harus dilatih positive discipline. Yaitu siswa sanggup berpartisipasi dalam memilih pilihan. Sebab, bawah umur kalau dipaksa akan cepat bosan. 5.Anak-anak diuji persis menyerupai apa yang akan dialami dalam kehidupan nyata. Jangan hingga ada soal ujian yang jauh panggang dari api. Soal ujian yang tidak menggambarkan realitas kehidupan yang sesungguhnya. Jangan mencontoh plot kisah sinetron kita yang cenderung tidak rasional dan realisitis. Tidak merepresentasikan kehidupan aktual yang sesungguhnya. Revolusi Informasi Revolusi Informasi berdampak luar biasa terhadap reformasi pembelajaran. Dari pembelajaran yang terpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berbasis IT. Sehingga seorang guru hanya berfungsi sebagai fasilitator. Dan kalau mereka kurang tanggap, penerima didiknya sanggup meninggalkannya. Sebab penerima didik membutuhkan perubahan, bukan hanya seorang guru. Pembelajaran juga harus berbasis riset. Seorang guru terutama dosen harus mengajarkan sesuatu berdasarkan hasil riset yang dilakukannya. Guru dihentikan hanya mengandalkan pengetahuan 'common sense' kepada siswa-siswinya. Dunia kini sudah terkonek dengan dunia lain. The World is flat, kata Thomas Friedman. Kita tidak hidup sendirian. Penguasaan dan pemanfataan teknologi dalam proses pembelajaran ialah suatu kemestian. Informasi menyebar demikian cepatnya. Sekarang sudah abad paper less culture. Budaya nir kertas. Penggunaan kertas sudah berkurang atau tidak sama sekali. Face booker society. Masyarakat pengguna face book. Semua informasi biasanya sudah ramai dibicarakan di face book. Demikian pula twitter. Seseorang lebih bahagia "berkicau" lewat twitter, bahkan seorang presiden sekalipun. Apa yang akan disampaikan oleh seorang guru di kelas, mungkin sudah diketahui oleh para siswanya. Berkat revolusi IT, informasi sangat cepat beredar. Kejadian di suatu tempat terpencil, dalam waktu yang sangat singkat sanggup diketahui di pecahan dunia lainnya. Itulah imbas Globalisasi. Hampir tidak ada infromasi yang sanggup ditutup-tutupi sekarang. Dulu, guru, Kyai sangat dihormati alasannya ialah merekalah satu-satunya sumber informasi. Sekarang, zaman sudah berubah. Google dan media umum lainnya sudah menyiapkan lebih dari 70% infromasi yang diperlukan manusia. Setiap delapan jam terbit artikel dan buku baru. Dalam hitungan detik, informasi apa pun yang kita butuhkan, sanggup dijelaskan oleh Google. Dengan demikian, para pendidik, guru, Kyai, dosen harus mengerti perubahan ini. Materi, metode pembelajaran harus diubah. Kita seharusnya menekankan pada pentingnya critical analysis. Bagaimana menganalisis "tumpukan" atau bahkan "sampah" informasi itu. Hoax sudah bertebaran dan sajian sehari- hari bagi pengguna internet. Berhati- hati dan waspadalah! Demikian pula dengan orang tua. Perlu perubahan pola komunikasi dalam mendidik putra-puteri kita. Hampir semua anak usia muda sudah memegang hand phone. Itu berarti, aspek finansial dalam keluarga harus diperhatikan. Seorang orang bau tanah tidak bisa lagi mengandalkan konsep "birr al-walidain", berbakti kepada kedua orang bau tanah untuk menakut-nakuti anaknya biar mereka dihormati. Zaman betul-betul sudah berubah. Seorang anak remaja sudah demikian "gaul". Mereka sudah sangat terkonek dengan seusianya dari selruh pecahan dunia. Anak-anak juga semakin cepat dewasa. Bagaimana menanamkan nilai-nilai kebaikan di tengah revolusi teknologi informasi yang demikian ini? Jangan-jangan suatu waktu, bawah umur kita hanya menghormati orang tuanya alasannya ialah kebetulan merekalah yang melahirkannya. Anak-anak hormat kepada orang bau tanah alasannya ialah "numpang" lewat lahir ke dunia fana ini. Gawat! Abu A'la al- Ma'arry pernah berkata: iza atatka madzammaty min naqish-in. Fa hiya al- syahadat-u ly bi anny kamil-un. Jika hingga informasi kekurangan diriku kepadamu. Itu menunjukan kesempurnaan akan diriku.
Advertisement