Dr. thaha Husain, dalam kitabnya 'Ala Hamisy al- Sirah menulis satu belahan khusus yang menggambarkan Nabi Muhammad shalla Allah alaih wa sallama sebagai "dokter jiwa", thabib nafsani. Bagaimana sosok Sufyan ibn umayyah dan al- Haris ibn Hisyam yang tadinya sebagai orang yang paling memusuhi Nabi, tiba- datang menjadi "kekasih" Nabi. Kekerasan dan kesombongan Sufyan dan al- Haris luluh di depan Nabi. Bahkan pada penghujung hidupnya kedua pembesar Quraisy ini menjadi pembela Islam. Sufyan dan al- Haris, keduanya ikut perang Hunain. Apakah Sufyan memeluk Islam dan berbalik menyayangi Nabi? Nabi Muhammad shalla Allah alaih wa sallama telah memberiku hadih 100 unta di hari Hunain. Padahal, dialah orang yang paling saya benci, kata Sufyan. Berarti engkau menyayangi Nabi sebab hadiah, tanya mitra dekatnya. Tolol, demi Allah. Nabi memberi sesuatu kepadaku padahal saya kaya dan mampu. Aku ,encintainya sebab Allah yang memberinya ilmu untuk mengobati sakit di jiwaku, tegas Sufyan. Subhanallah. Demikianlah sang Nabi, dokter jiwa. Pada episode lainnya, konon, Hindun, isteri Sufyan juga sangat membenci Mabi dan keluarganya. Hindunlah yang memakan hati Hamzah pada perang Uhud. Hindunlah biang kerok pecahnya perang Uhud. Hindunlah yang membacakan syair- syair usaha kafir Quraisy sehingga mereka sanggup memenangkan perang Uhud. Tetapi sesudah memasuki "bilik" Nabi ia tersenyum. Dan menyatakan bersyahadat dan memeluk agama Islam. Di sinilah kehebatan Nabi. Kelembutan hati Nabi yang dipenuhi rahmat kasih sayang menciptakan Arab Jahiliyah tertarik memeluk Islam.
Advertisement