-->

Pak Ittihad: Dari Tki Ke Dosen

Pak Ittihad: Dari Tki Ke Dosen
Pak Ittihad: Dari Tki Ke Dosen
Pada suatu pagi, aku menuju wisuda sarjana STIT Palapa, Lombok Timur. Di sepanjang perjalanan, aku disopiri oleh pak Ittihad. Salah seorang dosen STIT Palapa. Orangnya santun. Perhatian. Menarik. Antusias. Bercerita dengan kata- kata yang terukur. Dari tutur katanya terlihat bahwa ia seorang yang terpelajar. Ia bukan sopir biasa.
Ia hidup menderita. Ia melanjutkan kuliah di Bali dengan susah payah. Orang tuanya hidup sangat miskin. Di tengah kesulitan hidupnya itu, ia tetap bersemangat untuk melanjutkan kuliah. Orang tuanya tidak bisa membiayainya. Orang tuanya hanyalah orang desa miskin. Tidak final sekolah dasar. Ibunya juga mengalami nasib yang sama.
Untuk melanjutkan kuliah magister, pak Ittihad terpaksa mendaftar untuk menjadi tenaga kerja Indonesia di Korea Selatan. Ia harus bekerja keras. Ia harus membanting tulang. Ia bekerja pada sebuah pabrik selama delapan jam dalam sehari. Gajinya tidak mengecewakan menjanjikan, 11 juta rupiah per- bulannya. Ia harus terus bekerja. Pertama- tama, ia harus melunasi utangnya, 35 juta kepada salah seorang Tuan Guru yang berbaik hati meminjami uang setoran awal dikala pertama kali ke Korea Selatan. Dia terus bekerja hingga tiga tahun lamanya. Setelah itu, ia kembali ke kampung. Ia meneruskan cita- citanya untuk kuliah ke jenjang Magister.
Uangnya, sebagian ia tabung untuk kuliah. Sebagian untuk merenovasi rumah orang tuanya. Ia juga menciptakan rumahnya sendiri. Sekarang ia sebagai dosen STIT Palapa dengan spesialisasi Manajemen Pendidikan. Ia hidup senang dengan dua putera dan puterinya. Isterinya beliau kuliahkan sesuai dengan komitmen awalnya dengan sang mertua. Saya tertarik dengan keuletannya. Ketekunannya. Pengalamannya menjadi TKI di Korsel.
Ada banyak dongeng menarik yang dibawanya dari Korsel. Orang Korsel yaitu tipe pekerja keras. Tidak gampang mengeluh. Ia bisa menyembunyikan kelelahannya dikala sedang bekerja di pabrik. Meskipun sang Korsel itu gres saja dioperasi. Ia tidak akan gampang menceritakan penyakitnya kepada rekan kerjanya. Orang Korsel juga bekerja 8 jam dalam sehari. Ia harus mengangkat beban atau semen 6 ton perhari. Pekerjaan yang sangat berat.
Orang Korsel juga dikenal dengan kebebasannya dalam bergaul sehari- hari. Mirip- menyerupai Eropalah. Hal yang menarik yaitu orang Korsel sangat respek terhadap senior. Orang yang sudah usang sebagai karyawan dalam satu kantor atau pabrik menduduki posisi tertentu. Karyawan sangat dihormati. Mereka juga sangat respek kepada pimpinannya. Bahkan para pekerja tidak berani menatap mata pimpinannya. 
Orang Korsel sangat sempurna waktu. Kalau sudah jam 7 pagi seluruh pekerja sudah menunggu bus angkutan. Kalau ada telat satu menit saja, maka beliau akan ketinggalan bus. Karena telat, beliau tidak akan protes. Dia akan sadar bahwa itu yaitu kesalahannya. Ia harus bertanggungjawab atas keterlambatannya itu.
Orang Korsel dalam berpakaian termasuk rapi. Bahkan pekerja pabrik pun kalau di luar ruang kerjanya sangat parlente. Mereka rata-rata menggunakan jas, berdasi dan sepatu menyerupai orang Iran. Nanti sehabis masuk ruang kerjanya, gres mereka menggunakan seragam pabrik. Baru katahuan bahwa mereka yaitu pekerja kasar. Di luar sana, mereka tidak tampak sebagai pekerja pabrik. 
Ada juga dongeng yang unik dan seram-seram. Bahwa pergaulan sangat bebas di Korsel.Para muda-mudi bisa bermesraan di kendaraan beroda empat tanpa malu-malu. Justeru kitalah yang malu-malu memandangnya. Bahwa prostitusi juga termasuk legal. Bahwa imitasi alat-alat kelamin laki-laki dan perempuan dijual bebas di pasar dan di pinggir jalan.  
Saya terharu dan simpati kepada pak Ittihad yang berjuang di tengah- tengah kesulitan hidupnya. Selamat dan sukses selalu. Teruslah maju. Teruslah berjuang.
Advertisement