Paper atau kertas yakni sangat penting dalam sejarah peradaban manusia. Cina disebut- sebut sebagai negara pembuat kertas pada masa awal sejarah kemanusiaan. Bangsa Mesir juga populer dengan papirusnya. Sampai sekarang, papirus masih digunakan untuk menulis sejarah Mesir dan warisan para Fir'aun. Papipus juga digunakan untuk menulis Al- Qur'an pada masa persentuhan Islam dengan bangsa Mesir. Ada banyak ayat Al- Qur'an dan hadis Nabi shalla allah 'alaih wa sallama yang ditulis di atas kertas papirus. Dalam kaitan ini, Nabia Abbott menulis buku khusus untuk menandakan bahwa hadis nabi sangatlah otentik. Karena lewat goresan pena di atas papirus itu ada banyak hadis Nabi yang sanggup dibaca hingga era modern ini. Kembali kepada sejarah kertas. Mark Kurlansky menukis buku teranyarnya untuk sejarah kertas. Paper Paging Through History, 2016. Kertas adslah teknologi yang sangat sederhana namun sangat penting dalam sejarah teknologi yang diciptakan manusia. Untuk dua milenium terakhir ini, kertas sangat memainkan peranan dalam menyebarkan literasi, media, agama, pendidikan, perdagangan, dan seni. Kertas yakni pondasi peradaban. Kertas sanggup berfungsi untuk mendukung sebuah revolusi dan memproteksi stabilitas keamanan. Dapat kita lihat dalam sejarah Mao Tse-Tung ( Zedong) yang memproduksi 6,5 juta buku yang memuat pandangan dan ideologinya. Dan diterjemahkan ke dalam 37 bahasa dan braile. Hal ini dilakukannya untuk meluaskan pengaruhnya dan melaksanakan single of publication. Dan lagi- lagi atas jasa kertas. Leonardo da Vinci hanya menciptakan skema 15 lukisan, tetapi digandakan menjadi 4.000 di atas kertas. Sehingga Leonardo sangat masyhur lantaran jasa kertas. Sekarang yakni era paperless culture. Era meninggalkan penggunaan kertas. Apakah fungsi kertas akan dengan sendirinya berakhir? Hal yang menarik dalam buku Mark Kurlansky yakni sebuah tema yang membahas The Islamic Birth of Literacy. Bahwa kemunculan Islam justeru memberi oerhatian besar bagi perkembangan industri kertas. Bahwa mitos pembuatan kertas berkait kelindan dengan tawanan tentara China. Sebagaimana yang ditulis oleh al- Tha'ilibi, sejarawan Arab kala ke-10 yang menukis buku berjudul: Book of Curious and Entertaining Information. Dalam buku tersebut, dia berkisah bahwa sesudah perang Talas tahun 751, panglima perang Arab, Ziyad ibn Shalih sanggup menaklukkan tentara China di Gao Xianzhi. Beliau menangkap para tawanan perang China, dan meminta mereka untuk mengajarkan cara menciptakan kertas di Samarkand. Sehingga, produksi kertas secara massal terjadi di samarkand bahkan menjadi barang ekspor, dan masyarakat sanggup memanfaatkan kertas tersebut di mana pun mereka berada. Ada dongeng lain yang menyebutkan bahwa penggunaan kertas dimulai di Asia Tengah semenjak kala ke empat. Hal ini dijelaskan oleh Marc Aurel Stein, seorang arkeolog Hungaria. Bahwa penggunaan kertas untuk pertama kalinya terjadi pada tahun 313-314. Dikisahkan bahwa seorang isteri kesal sama suaminya, lantaran sudah meninggalkannya tanpa memberinya uang. Sehinga sang isteri menulis di atas kertas, I would rather be a dog's wife or a pig's wife than yours. Bahkan sejarawan China, Tsien Tsuen Hsuin menyampaikan bahwa penggunaan kertas di Asia Tengah lebih awal, pada tahun 105 Masehi, bukan awal kala ke lima Masehi. Kata- kata Arab untuk kertas yakni kaghid dan qirtas. Kata ini juga digunakan dalam Al- Qur'an. Seperti jamak diketahui bahwa Islam lahir di tengah- tengah masyarakat Arab yang rata- rata buta huruf. Tetspi kebutuhan akan kertas meningkat, dikala Islam sudah berkembang ke beberapa wilayah sekitar semenanjung Arabia. Seperti Syiria, Mesir, dst. Sepeninggal Nabi shalla Allah alaih wa sallama, dikala perang ada puluhan penghafal Al- Qur'an yang gugur di medan perang. Di sinilah semakin muncul kebutuhan akan kertas. Terlebih lagi dikala ayat- ayat Al_Qur' an banyak yang ditulis dengan kaligrafi. Perkembangan Islam dan kebutuhan akan penggandaan al- Qur'an menciptakan kehadiran kertas sangat penting. .... In the course of their conquests, the muslims came into contact with many centers of learning, and every conquest advanced their knowledge. They learned papermaking and alchemy from the Chinese in Central Asia, and mathematics from the peoples of Egypt and Syria. From the Greeks, they learned hydraulic engineering, and in North Africa, Spain, and Sicily, they observed Roman Civil engineering-- the building of bridges, dams, aqueducts, and irrigation. H. 52.
Advertisement