Tidak terasa AICIS sudah memasuki tahun ke- 16. Perhelatan akademik ini terus diminati dan telah menjadi magnet bagi komunitas akademik dan pemerhati kajian Islam. Tema AICIS ke- 16 ini yakni "Kontribusi Islam Indonesia bagi Peradaban Dunia”( The Contribution of Indonesian Islam to the World Civilization). Ada apa dengan Islam Indonesia? Dr Carool Kersten dalam bukunya: Islam in Indonesia, the Contest for Society, Ideas and Values (2015) menegaskan bahwa Pengalaman Indonesia dalam berdemokrasi sanggup menjadi "alternatif ketiga" (third way) dan menjadi pilihan yang sempurna di tengah ambigu negara- negara lebih banyak didominasi muslim dalam menentukan perilaku antara menentukan negara sekuler dan atau negara Islam. • Posisi strategis Indonesia dari segi geografis, demografis dan ekonomi menjadi daya tarik tersendiri. Indonesia berada di tengah poros perdagangan Asia- Pasifik. Indonesia yakni negara demokrasi terbesar ke- empat dunia. Indonesia mempunyai penduduk muslim terbesar nomor wahid dunia. Pasca Arab Spring, dunia semakin tertarik melirik Islam Indonesia. Fenomena ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) dan Boko Haram semakin memperteguh pentingnya dunia Islam terutama Timur Tengah untuk tiba berguru ke Indonesia. Gerakan dan agresi ISIS telah memporak- poranda legacy, warisan, dan khazanah peradaban dunia. ISIS dan Boko Haram juga memperabukan buku dan manuskrip- manuskrip yang tak ternilai harganya. Membakar manuskrip berarti telah memotong generasi. Mereka telah menghilangkan nyawa orang- orang yang tak berdosa. Dan yang paling menyedihkan, mereka juga telah dan sedang menghancurkan peradaban manusia. Hal ini juga semakin memperkuat bahwa Islam Indonesia dikala ini, tidak lagi dipandang sebagai Islam peripheral. Islam pinggiran yang tidak menentukan. Tetapi Islam Indonesia yakni Islam mainstreaming. Islam Indonesia sejatinya menjadi acuan dunia dalam demokrasi dan moderasi Islam, Islam wasathiyah. Islam Indonesia yakni genuine dan otentik. Tokoh-tokoh pemikir muslim kontemporer Indonesia, ibarat Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Amin Rais, Buya Ahmad Syafi'i Ma'arif mempunyai corak anutan yang khas dan otentik. Artikulasi dan pergumulan anutan antara sekularisme, liberalisme, pluralisme dan Islam sanggup diselesaikan dengan baik. Pemikiran beliau- ia ini semuanya bermuara dan berujung pada "Islam Moderat", Islam wasathiyah. Meskipun tidak sanggup dibantah bahwa 15 tahun terakhir, di Indonesia juga terdapat fenomena Conservative Turn, pembalikan wajah Islam yang ramah, hening dan santun ke arah konservatif dan radikal. Menurut penelitian Prof Martin van Bruinessen, dkk, bahwa Conservative Turn tersebut juga sudah masuk pada lembaga- forum formal di Indonesia, ibarat Ormas-ormas dan forum pendidikan. Halmana, ormas-ormas Islam selama ini tampil sebagai penyangga civil society. Ini yakni warning dan tantangan bagi komunitas akademik dan pemerhati kajian Islam Indonesia. Ini yakni tantangan buat kita semua. Bahwa Islam wasathiyah harus menjadi common platform kita dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Kita harus terus berdiskusi dan membuka "ruang dialog" untuk saling memperkaya dan mencari titik temu. AICIS yakni salah satu ruang obrolan dimaksud. AICIS yakni "rumah bersama" bagi komunitas pengkaji Islam untuk mendiseminasi hasil- hasil risetnya untuk meneguhkan Islam wasathiyah tadi. Barangkali menarik untuk kita diskusikan lebih jauh temuan Michael Laffan, dalam bukunya: The Making of Indonesian Islam, bahwa Islam Indonesia yang sering digambarkan sebagai Islam moderat, bekerjsama terjadi sebab jasa para ulama sufi yang memainkan tugas aktif dalam membentuk tradisi- tradisi Islam Indonesia. Kalaupun ada praktek intoleransi dalam penyebaran Islam, hal itu yakni dampak dari penaklukkan tentara Arab. Peran ulama- sufi ibarat Nuruddin ar Raniny, Abdul Rauf Singkel, Abd Shamad al- Palimbani, Syeikh Muhammad Arsyad al- Banjari, Syeikh Yusuf al- Makassari, Syeikh Nanawi al- Bantani, penyair Hamzah Fansuri, pujangga Ronggowarsito sangatlah besar pengaruhnya dalam membentuk tabiat dan abjad Islam Indonesia. Karakter Islam Indonesia lebih mengedepankan etika dan etika dalam pergaulan. Islam Indonesia lebih akomodatif terhadap budaya dan kearifan lokal. Tegasnya, nilai-nilai universal Islam tiba untuk “memahkotai” budaya lokal.Masyarakat Lampung, umpamanya mempunyai Piil Pesinggiri dan Muakhi. Piil Pesinggiri yakni semangat kebersamaan, saling menghormati, tidak ingin di atas jika ada yang di bawah, bersikap terbuka dan sangat menghormati tamu. Muakhi yakni “napas” keadaban masyarakat Lampung untuk memupuk persaudaraan dan tali silaturahmi secara terbuka. Budaya dan kearifan local harus terus dirawat untuk memperkokoh tegaknya pilar Islam rahmatan li al-‘alamin. Semoga AICIS kali ini lebih sukses dan lebih berperan serta melahirkan pemikiran- anutan otentik untuk kemajuan peradaban Islam Indonesia dan dunia. Islam Indonesia yang moderat, hening dan santun harus terus dirawat dan diperkuat supaya dunia semakin damai, kondusif dan toleran. Saya tidak sanggup membayangkan, bagaimana tatanan dunia Islam tanpa Islam Indonesia.
Advertisement