Muhammad Iqbal yaitu seorang filosof-pujangga. Ia yaitu Bapak bagi bangsa Pakistan, meskipun dia wafat sebelum kemerdekaan Pakistan. Ada buku menarik yang ditulis Prof Masúd al-Hasan dengan judul Stories and Biographies from Iqbal (Lahore, t.th). Buku menarik alasannya yaitu memuat artikel singkat Iqbal. Ada banyak dongeng alegoris. Tuhan pun tersenyum. Pertemuan Pujanggan dan Bidadari. Doá para budak. Bertemu Abu Bakar ash Shiddiq. Panglima Thariq ibn Ziyad. Orang suci dan pendosa. Rumah sakit di Hijaz. Menjadi sufi. Dialog cinta dan kematian. Dialog Kutu Buku dan laron, dst. Ada obrolan Rajawali dan semut. Kita diajak bermental rajawali. Bekerja keras, tegar, dan tangguh. Rajawali sangat berdikari untuk survive. Mereka terbang tinggi, dan tidak mau bergabung dengan yang lemah. Kalau bertarung dengan singa, rajawali masih dapat mengambil matanya. Jangan bahagia mematok padi di atas tanah menyerupai burung piaraan. Berjalanlah di atas kerikil yang keras biar paruhmu tetap kuat.
Ada dongeng alegoris pertemuan antara seorang pujangga dengan bidadari. Ketika sang pujangga "melangit", ia digoda oleh bidadari. Agar sang pujangga mau mampir ke nirwana menikmati indahnya kehidupan surgawi. Tetapi, apa lacur sang pujangga tidak tertarik sama sekali dengan kehidupan nirwana yang monoton. Kehidupan yang tidak menantang yaitu kehidupan yang tidak diinginkannya. Kehidupan monoton itu terasa akan sia- sia. Bagi Sir Muhammad Iqbal, kehidupan itu yaitu gerak dan dinamika. Dan membisu yaitu kematian. al- Hayat harakatun. Wa al Sukun al- maut.
Iqbal, sang filosof selalu meyakinkan umat Islam biar terus bermental petarung. Percaya diri. Bahkan bermental rajawali. Bukan bermental pecundang. Sekali gebrak menjadi ciut. Bermental burung rajawali yaitu bekerja keras, tegar dan tangguh. Sangat mandiri. Sebab untuk survive, burung rajawali harus terbang tinggi, dan tidak bergabung dengan orang lemah. Kalau bertarung dengan singa, ia masih mengambil matanya.
Jangan bahagia mematuk padi di atas tanah menyerupai burung liaraan. Berjalanlah di atas kerikil keras biar paruhmu tetap kuat.
Ada lagi dongeng alegoris lainnya. Seorang bijaksana dari Iran meninggal dunia. Setalh wafat, ia mengadu kepada Tuhan. Wahai Tuhanku, mengapa malaikat maut demikian tidak profesional dalam melakukan tugasnya. Ia mencabut nyawa dengan cara yang kasar. Ia tidak menawarkan profesinalisme kerja. Sedari dulu, pekerjaannya tidak meningkat. Maalaikat mmaut mencabut nyawa tidak dengan SOoP profesional.
Sedankan. Di Barat sampaumur ini, sudah memgembanggkan teeknologi tinggi untuk
pembunuhan massal.
dalam sekejab, barat dapat membunuh ribuan orang. Senjata kimianya sudah sangat canggih. Dalam hitungan detik, mereka dapat memanfaatkan pesawat jet canggih dengan senjata kimia untuk membunuh secara massal. Malaikat maaut pun akan. Kebingunan menyaksikannya. Tuhanku, tolonng kirimlah malaikat maut- Mu ke Barat biar dapat mengikuti pembinaan mencabut nyawa secara ceoat, aman, nyaman dan profesional. Tentu dongeng alegoris ini tidak bisaa dipahami secara harfiyah. Kita harus memahaminya secara filosofis dan pedoman yang mendalam.
Ada dongeng alegoris pertemuan antara seorang pujangga dengan bidadari. Ketika sang pujangga "melangit", ia digoda oleh bidadari. Agar sang pujangga mau mampir ke nirwana menikmati indahnya kehidupan surgawi. Tetapi, apa lacur sang pujangga tidak tertarik sama sekali dengan kehidupan nirwana yang monoton. Kehidupan yang tidak menantang yaitu kehidupan yang tidak diinginkannya. Kehidupan monoton itu terasa akan sia- sia. Bagi Sir Muhammad Iqbal, kehidupan itu yaitu gerak dan dinamika. Dan membisu yaitu kematian. al- Hayat harakatun. Wa al Sukun al- maut.
Iqbal, sang filosof selalu meyakinkan umat Islam biar terus bermental petarung. Percaya diri. Bahkan bermental rajawali. Bukan bermental pecundang. Sekali gebrak menjadi ciut. Bermental burung rajawali yaitu bekerja keras, tegar dan tangguh. Sangat mandiri. Sebab untuk survive, burung rajawali harus terbang tinggi, dan tidak bergabung dengan orang lemah. Kalau bertarung dengan singa, ia masih mengambil matanya.
Jangan bahagia mematuk padi di atas tanah menyerupai burung liaraan. Berjalanlah di atas kerikil keras biar paruhmu tetap kuat.
Ada lagi dongeng alegoris lainnya. Seorang bijaksana dari Iran meninggal dunia. Setalh wafat, ia mengadu kepada Tuhan. Wahai Tuhanku, mengapa malaikat maut demikian tidak profesional dalam melakukan tugasnya. Ia mencabut nyawa dengan cara yang kasar. Ia tidak menawarkan profesinalisme kerja. Sedari dulu, pekerjaannya tidak meningkat. Maalaikat mmaut mencabut nyawa tidak dengan SOoP profesional.
Sedankan. Di Barat sampaumur ini, sudah memgembanggkan teeknologi tinggi untuk
pembunuhan massal.
dalam sekejab, barat dapat membunuh ribuan orang. Senjata kimianya sudah sangat canggih. Dalam hitungan detik, mereka dapat memanfaatkan pesawat jet canggih dengan senjata kimia untuk membunuh secara massal. Malaikat maaut pun akan. Kebingunan menyaksikannya. Tuhanku, tolonng kirimlah malaikat maut- Mu ke Barat biar dapat mengikuti pembinaan mencabut nyawa secara ceoat, aman, nyaman dan profesional. Tentu dongeng alegoris ini tidak bisaa dipahami secara harfiyah. Kita harus memahaminya secara filosofis dan pedoman yang mendalam.
Advertisement