-->

Stain Malikusshaleh

Stain Malikusshaleh
Stain Malikusshaleh
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Malikusshaleh, Lokhseumawe mengadakan program persmian gedung Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam. Peresmian ini meriah dan spesifik. Menteri Agama RI, H. Lukman Hakim Saifuddin berkenan meresmikan gedung syariah tersebut. Walikota Lokhseumawe , Suaidi Yahya dengan unsur muspida juga tiba menghadiri. Tentara Nasional Indonesia dan Polri, Ketua MPU Lokhseumawe juga tiba memeriahkan persitiwa penting ini. Acara dimeriahkan dengan penampilan tari Saman hasil kreasi mahasiswa STAIN Lokhseumawe.
Nama Malikusshaleh diambil dari nama Sultan Malikusshaleh, raja pertama kerajaan Samudra Pasai. Menurut catatan Marco Polo yang pernah bertamu ke istana Suktan Malikushsaleh, bahwa Samudra Pasai ialah kerajaan Islam pertama di nusantara. Ibnu Bathuthah dalam kitab Rihlanya juga menyebut Samudra Pasai.  Ibnu Bathuthah bertemu dengan Sultan Malik az Zahir, putra Sultan Malikusshaleh. Malik az Zahir ialah al said asy Syahid. Beliaulah sultan yang membuat dirham, uang logam emas yang bernilai tinggi. Dirham ini sebagai membuktikan kemakmuran dan kesejahteraan Kerajaan Samudra Pasai. Dirham juga melambangkan perdagangan dan kekerabatan internasional kerajaan Samudra Pasai. Malik az Zahir dikenal sebagai sultan yang saleh, dermawan, bijaksana, dan sangat rendah hati. Catatan Ibnu Bathuthah, bahwa sewaktu dia mengunjungi istananya, semua tamunya diterima dan dipersilakan duduk di atas kain kehirmatan. Sementara sultan Az zahir sendiri duduk melantai di atas tanah tanpa ganjal apa- apa.
Banda Aceh dan Lokhseumawe memang kota serambi Mekkah. Kota ini ialah tanah bertuah. Kota ini dalam sejarah panjangnya telah melahirkan tokoh- tokoh nasional dan dunia. Sultanah Safiatuddin yang keturunan Gowa- Bugis itu telah meletakkan posisi agama dan ulama dalam konstitusi negara yang dipimpinnya. Beliau mengangkat Syeikh Abd Rauf al Singkily sebagai Qadhi al Qudhat di Banda Aceh. al singkily sangat populer dengan kitab tafsir yang ditulisnya, Tarjumanul Mustafid. Konon, kitab tafsir ini ialah kitab tafsir pertama yang ditulis oleh orang Indonesia di nusantara. Al Singkily juga dikenal dengan kepiawaiannya dalam mengharmoniskan pandangan ulama sufi yang bertikai. Seperti kita ketahui dalam sejarah dan dinamika intelektual di Banda Aceh, Syeikh Nuruddin  ar Raniry dengan syeikh Syamsuddin Al Sumatrani.  Konsep Wahdatul Wujud yang diperkenalkan al Sumatrani dianggap oleh ar Raniry sudah keluar dari Iman. Itulah sebabnya, Masjid Baitur Rahman, Masjid Agung Banda Aceh menjadi saksi pembakaran buku- buku yang dianggap telah menyimpang dari tauhid.
Menteri Agama Ri dalam sambutannya mengucapkan terima kasih yang setulus- tulusnya kepada semua pihak yang telah berkontribusi untuk pendirian STAIN ini. Qiyamud dunya bi arbaati asyin. Bi ilmi al ulama. Bi adl al umara. Teori Montesqui sudah lama bahwa cabang kekuasaan hanya tiga, eksekutif, legislatif dan yudikatif. Bi sakhawatil aghniya, kedermawanan orang kaya. Bi du'ail fuqara, dengan do'anya para fuqara. Ada yang orang bertanya, pak Lukman, aku ini bukan golongan dari empat golongan tersebut. Barangkali Anda masuk dengan bi duail fuqara. Saya ingin menekankan, bagaimana nilai- nilai kebajikan itu disemai dengan baik. Saya ingin menegaskan bahwa kita hidup di Indonesia. Realitas keindonesiaan kita ialah luar biasa besarnya. Kita ialah bangsa yang besar. Kita juga mempunyai keragaman yang luar biasa. Saya tadi bertanya kepada Ketua STAIN, apa jenis kuliner di sini. Ada Pli'u. Santan kelapa yang dimasak dengan 44 sayuran. Dari sini saja, kita sudah bisa melihat keragaman yang luar biasa. QS al Hujurat ayat 11 bahwa keragaman itu ialah sunnatullah. Bangsa Aceh mempunyai sejarah panjang keragaman. Aceh dibuat oleh bangsa- bangsa besar yang berperadaban besar, ibarat Arab, Cina, Eropah, India. Orang Aceh tidak semuanya hitam- hitam, tetapi ada juga putih ibarat orang Eropah. Ini betul-betul perpaduan. Kita harus mempunyai kemampuan untuk mengelola keragaman. Keragaman itu memperlihatkan anugerah Tuhan. Karena insan itu sangat terbatas. Karena keterbatasan itukah keragaman mempunyai keberkahan untuk mengatasi keterbatasan insan tadi itu. Sebagai Menteri Agama, aku sangat banyak bersentuhan dengan agama- agama, dan ratusan agama- agama lokal yang di luar enam itu. Bahkan pada internal agama itu sendiri, juga sangat kaya dengan qawlami, fihi aqwalun. Sekali lagi, keragaman itu ialah anugerah. Karena edengan keragaman itu, kita mendapat anugerah. Kemudahan- fasilitas dalam menjalani kehidupan ini. Keragaman harus diambil hikmahnya. Di sini, sekali lahi, kesadaran sepertenganggang rasa,ti ini menjadi penting. Indonesia mempunyai local wisdom. Hampir semua suku dan agama mempunyai tenggang rasa. Kita harus menyebarkan agama dengan tenggang rasa. Islam mengajarkan Islam yang menghormati perempuan. Islam hadir saat bangsa Arab mengubur hidup- hidup anak perempuannya. Anak wanita hanyalah sebagai malu keluarga. Lalu, bagaimana cara kita menghormati perempuan. Di Saudi Arabiyah, wanita dihentikan menyetir mobilnya sendiri. Di Indonesia, seorang wanita bisa menjadi hakim dan putusannya sama dengan hakim laki- laki. Saya ingin menyampaikan bahwa begitulah ulama Indonesia menghormati perempuan. Lokus dan tempus, ikut memengaruhi suatu aturan diterapkan. Taghayyur al ahkam bi taghayyur azman wa al amkinah. Kita harus memperlihatkan keragaman itu. Lagi- lagi ilmulah yang sangat memilih ini semua.
Advertisement