-->

Catatan Umrah-1

Catatan Umrah-1
Catatan Umrah-1
Saya beruntung manunaikan ibadah umrah menggunakan Garuda Airlines yang berpenumpang hanya 20 orang. Sebuah perjalanan yang menarik. Sebab lebih banyak pramugarinya daripada penumpangnya. Menu makanan yang disajikan juga tidak mengecewakan enak. Dan terkadang disodori hidangan yang berlebih. Penumpang terasa sangat dimanjakan. Sebuah perjalanan yang mengasyikkan. Check true Jakarta pribadi ke Jeddah. Hanya menempuh 9.25 menit. Lebih cepat dari aktivitas semula. Barangkali lantaran cuaca lagi bersahabat. Sepanjang perjalanan, hampir kita tidak mencicipi goncangan yang mengguncang. Setiba di bandara Jeddah, problem mulai muncul. Paspor mas Fikri tidak cocok dengan data sidik jarinya sekarang. Mungkin lantaran Fikri sewaktu mengurus paspor pertama kalinya masih umur sekolah dasar. Sehingga muka dan sidik jarinya berbeda. Atau mengalami perkembangan. Saya berulang kali berpindah daerah investigasi imigrasi. Tiga kali bolak-balik. Masalah kedua muncul lagi, lantaran bagasi ternyata di terminal haji. Sedang kami didrop di terminal satu. Kami terpaksa mondar - mandir menanyai petugas bagasi. Ada banyak orang yang kami temui. Akhirnya, diberi surat untuk mencari bagasi kami yang dua potong itu. Dua koper besar. Akhirnya ada informasi dari sebelah bahwa koper betul di terminal haji dan umrah. Saya diberi hand phone petugas untuk meyakinkan saya bahwa bagasi telah diambil teman dari KBRI. Pak Badrus namanya. Alhamdulillah, kami disuruh menunggu di luar bandara, pas di pintu keluar terminal satu, Jeddah. Kami diantar pak Badrus ke wisma al- Andalus, Jeddah. Perjalanan sekitar 30 menit dari bandara Jeddah. Kami diberi kamar untuk istirahat sejenak. Wisma tersebut kebetulan tidak berpenghuni. Mereka pada sibuk mengantar rombongan pak Menteri Agama ke Mekkah dan Medinah. kami istirahat, dan shalat Ashar dan dzuhur sekaligus. Kami menikmati super Mie yang semula sudah dipersiapkan di Jakarta. Kami baring sejenak. Kemudian, mitra di Wisma menyarankan biar kami pribadi mengambil Umrah dari Jeddah saja. kami pun mengikuti saran mereka. Kami mandi sebagai tanda bersuci untuk menunaikan umrah. Shalat sunnah, dst. Kami pun meluncur ke kota suci Mekkah. Perjalanan lancar sambil menikmati kisah-kisah sang sopir yang sudah usang muqim di Saudi Arabiyah. Ada kisah pemerintahan Raja Salman yang mempunyai kebijakan biar warganya ulet bekerja. Merka dihentikan lagi mengandalkan sumber daya minyak yang terbatas itu. Mereka harus mempunyai keterampilan kerja. Itulah sebabnya, kini ini di restoran dan pramusaji kita sudah sering menemukan anak muda Arab yang ulet bekerja. Pemandangan ibarat ini tidak ditemukan pada tahun-tahun sebelumnya. Kami menempuh perjalanan sekitar 2 jam-an. Kami diceritakan sejumlah daerah yang dipasangi CCTV. Kalau ada kendaraan beroda empat yang ngebut niscaya terekam kamera CCTV. Dan tentu akan berdampak pada mahalnya pajak kendaraan beroda empat mereka. Persis waktu maghrib, kami datang di Mekkah al-Mukarramah. Hati berdebar, dan air mata tak terasa membasahi pipi. Rindu kepada Baitullah berkecamuk. Kelap-kelip lampu di pelataran Masjidil Haram menambah syahdu dan rindu Mekkah. Kami mencari seorang mitra yang mengurus kamar di Hotel Zam-Zam Tower. Dia seorang Madura yang polos dan jujur. Saya terpaksa menderek koper besar di tengah jamaah maghrib. Saya berjalan saja tanpa peduli jamaah sepanjang jalan. Ah tidak ada juga yang mengenal saya, bisikku dalam hati. Tidak usang kemudian, terdengar bunyi dering handphone, Bapak Zain posisi di mana? Saya di dekat Kantor Bank,.....jawabku. Soalnya, orang Madura ini sama sekali tidak saya kenal. Demikian pula sebaliknya. Berselang beberapa menit kami bertemu. Koper besar pribadi diambilnya, dan kami berjalan cepat menuju hotel Zam-zam Tower yang hanya beberapa meter dari pelataran Masjidil Haram, mekkah. Subhanallah, Maha Suci Dikau Tuhan. Alangkah bahagianya hati ini dapat menginap di hotel glamor dan terdekat dengan Rumah-Mu, ka'bah. Saya teringat pada tahun 2010,ketika melakukan umrah dengan isteri saya, Asriaty. kami berdoa di pelataran Masjidil haram, bahwa suatu waktu kami akan menginap di Zam-zam Tower. Enam tahun kemudian, Allah Swt mengabulkan doĆ” kami. Alhamdulillah!
Advertisement