Apa beda film- film produksi Hollywood dengan film sinetron kita? Ternyata bedanya cukup menyolok. Biasanya film- film barat itu lebih faktual dan filosofis. Film- filmnya lebih konkret dan memotret tema- tema krusial kemanusiaan. Filmnya seakan- akan nyata dalam kehidupan. Tentu hal ini, berbeda dengan sinetron yang kita tonton setiap harinya. Film kita biasanya berkait kelindan dengan masalah pedukunan. Mungkin alasannya orang Indonesia masih memercayai takhayul dan hal-hal ghaib. Saya termasuk orang yang gemar menonton film-film terutama Hollywood. Sebab, sambil berguru bahasa Inggeris juga bahagia mengutip filosofi hidup yang biasa terselip dalam percakapan dalam film tersebut. Ada beberapa kata-kata bijak yang sanggup saya kutipkan kata Film King & Maxwell, sebagai berikut: a. Perubahan itu niscaya bagus, alasannya kita sanggup menemukan sesuatu yang tersembunyi. b. Terkadang untuk menemukan kebenaran, kita harus berbohong sedikit saja. c. Untuk menemukan kebenaran, kita harus mundur ke belakang. Sebagai refleksi, saya sarankan biar menonton beberapa film yang cukup inspiratifberikut ini: 1. In the Heart of the Sea Pada trend cuek tahun 1820, kapal penangkap ikan paus asal New England diserang seekor hiu raksasa. Hiu tersebut mendendam layaknya manusia. Hiu tersebut ditemukan di Samudra Pasifik yang dalam. Sampai karenanya awak kapal tersebut terdampar di sebuah pulau bebatuan yang gersang. Hidup mereka terlunta-lunta dan sangat mengenaskan. Mereka tidak mempunyai masakan dan air higienis untuk diminum. Mereka hanya menunggu kapal lewat. 2. the Sea of Trees. Lautan hutan (Fuji), Jepang. a. Hidupmu hanya satu. Jagalah! b. Selalu ada balasan dalam ilmu. c. Hutan Fuji, Jepang dikenal sebagai perpect places to die. Hutan ini ialah daerah penyucian jiwa. d. Bunga tumbuh( di bebatuan) sebagai tanda arwah sudah menyeberang. 3. The Light between the Oceans Sepasang suami isteri hidup di sekitar pantai Janus, Australia. Isterinya mengalami keguguran. Belakangan, keduanya menemukan bayi di atas bahtera dengan ayah yang sudah meninggal. Bayi wanita tersebut (Lucy Grace) dipeliharanya, hingga usia Sekolah Dasar. Tetapi isterinya tidak melaporkannya kepada polisi. Belakangan tertangkap tangan bahwa anak tersebut bukanlah puterinya. Akhirnya, dalam sebuah program di gereja, mereka bertemua dengan ibu kandung Lucy Grace. Akhirnya secara aturan Lucy Grace jatuh ke pangkuan ibu kandungnya. Sang suami mengaku sebagai penginisiatif memungut bayi tanpa melaporkannya kepada pihak kepolisian. Akhirnya, ia masuk penjara. Sang isteri hidup kesepian dan merana di rumahnya. Berselang kemudian, sehabis sang suami keluar penjara, sang isteri jatuh sakit. Dan tidak usang kemudian, ia meninggal. Sang suami hidup sebagai duda hingga masa senjanya. Suatu waktu, Lucy Grace tiba bertamu dan membawa puetra si mata wayangnya untuk menghibur ayah angkatnya itu. Inilah cerita pilu sepasang suami-isteri yang sangat merindukan momongan.
Advertisement