-->

Cerita Baharuddin Lopa

Cerita Baharuddin Lopa
Cerita Baharuddin Lopa
Kisah pak Lopa ini menurut dongeng Dr Wajidi Sayadi, kemanakan Prof Lopa yang sehari- hari bersama dia di kediamannya. Makara kisah ini menurut pengalaman dan pengamatan langsung. 1. Bertengkar dengan isteri. Karena sebagai Menteri Kehakiman, pakaian dia di mata isteri sangat sederhana. Tidak pantas sebagai pakaian pesta. Bertengkar hebat. Isteri beliau, Bu Andi Endara wulan tidak mau ikut jikalau dia tidak mengganti bajunya. Sementara pak Lopa melihat bajunya sudah pantas untuk ikut pesta. Lalu, pak Lopa pada akibatnya mengalah. Beliau mengganti bajunya. Mereka berdua melenggang ke pesta ijab kabul kerabatnya. 2. Mengembalikan burung titipan. Satpam yang mendapatkan burung entah darimana menerima semprot dari pak Lopa. Satpam jatuh sakit. Dan tidak pernah sehat hingga pak Lopa wafat. Dengan nada keras, dia berkata, siapa yang menyuruh anda mendapatkan burung ini. Tolong kembalikan burung ini. Dan jangan pulang sebelum ada bukti bahwa burung itu sudah kembali ke pemiliknya. 3. Beli baju yang super murah. Pak Lopa jikalau membeli baju seharga 15 ribu. Tolong belikan baju kaos yang berkera yang seharga 15 ribu.,jangan lebih dengan harga tersebut. Orang yang disuruh tentu kesulitan untuk mendapatkan baju seharga 15 ribu rupiah. Dia punya ide, menggunting harga baju tersebut, sehingga memudahkan urusan. Semoga pak Lopa tidak menanyakan lagi harga baju super murah tersebut. 4. Menjahit sepatu. Sepatunya cuma ada satu. Sewaktu robek, dia menyuruh kemanakannya untuk menjahitnya. Karena tidak mendapatkan penjahit sepatu, maka dijahit di pinggir jalan. Karena dia tidak sanggup menunggu lama. Beliau hanya mempunyai satu sepatu. 5. Tulisan terakhir yang ditulis di Suara Pembaharuan yaitu Kebebasan Pers. Beliau memuji Habibie yang mengusung kebebasan pers tetapi tetap dalam koridor hukum. Regulasi dan aturan tetap ditegakkan. Kebebasan tidak bersrti sebebas- bebasnya. 6. Suatu hari, Prof Lopa bertemu mitra lamanya di Pasar Minggu. Beliau sangat bersahabat dan kangen dengan lamanya tersebut. Setelah perbincangan selesai, keduanya berpisah. Dan mengucapkan salam perpisahan. Dan pak Lopa merogoh kantongnya sembari memberi uang temannya tersebut. Berspa jumlahnya? Rp 15 ribu. Isterinya nyeletuk, mipasiri'o tongang abba Khalid. Engkau menciptakan aib kita. Bayangkan, seorang Menteri Kehakiman memberi uang sejumlah rp. 15 ribu. Apa kata orang? Ah, itu sudah banyak, jawab Lopa enteng. Kita tidak tahu, apakah Prof Lopa itu tidak mengerti nilai uang. Atau mengajarkan kesederhanaan kepada siapa pun. Atau memang kurang peka terhadap warna dan nilai uang, maaf. 7. Setiap pak Lopa menyuruh sesuatu, selalu mengulanginya. Seumpama dia menyuruh seseorang untuk membeli meperluan sehari- hari, sesudah yang bersangkutan hendak berangkat, dia mengecek lagi. Apakah yang bersangkutan mengerti apa yang disuruhkan. Beliau sangat teliti. Sama halnya, ketika dia diwawancarai seorang wartawan. Sebelum sang wartawan selesai menulis, pak Lopa niscaya mengecek lagi, apa yang telah ditulis sang wartawan. Jangan hingga ia salah mengutip pendapat Prof. Kalau ada yang kurang pas, pak Lopa eksklusif mengoreksinya pada ketika itu juga. Mohon maáf kepada keluarga Lopa jikalau ada yang bersifat personal. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengambil íbrah keteladanan dan kesederhanaan seorang Barlop.
Advertisement