-->

Guru Inspiratif

Guru Inspiratif
Guru Inspiratif
Panitia Menyapa: Ikhtiar Mencetak Guru Inspiratif Oleh: Muhammad Zain Musyawarah Kerja Nasional PERGUNU digelar alasannya ialah berangkat dari sebuah keprihatinan. Bahwa ada yang salah dalam proses pembelajaran dan pendidikan kita. Halmana, penerima didik belum sepenuhnya sanggup mendapatkan amanah untuk bisa berpikir kreatif, berinovasi dan berdaya saing. Lebih-lebih lagi dengan kenyataan mudahnya tawuran antar pelajar. Fenomena apa ini? Apa yang salah dengan pendidikan kita. Apakah alasannya ialah guru- gurunya sudah jarang mendoakan murid- muridnya. Para guru sudah sangat asyik dengan sertifikasi guru? Atau para penerima didik yang memang sedari keluarganya sudah banyak masalah? Atau masyarakat kita tengah "galau" dengan perubahan dan globalisasi. Kita tengah mengalami The Future Shock--meminjam istilah Alvin Toffler. Menggugat Pendidikan Menarik membaca pikiran Ken Robinson yang diulas Yuswohady dibawah judul Menggugat "Pendidikan Bonsai". Tragedi terbesar pedidikan sampaumur ini ialah tidak membebaskan. Tidak melahirkan insan merdeka. Tidak mendidik insan berdikari dan independent. Pendidikan tak ubahnya sebagai alat dan sekrup kapitalisme. Pendidikan dikesankan sebagai alat untuk mencari makan, mengejar kekuasaan, dan untuk menggapai ketenaran. Peserta didik disodori soal-soal multiple choice. Mereka diarahkan untuk mencapai sasaran nilai dan indeks prestasi akademik tinggi. Pendidikan gagal untuk menemukan jati diri pesera didik. Pendidikan sejatinya membebaskan menyerupai gagasan Paulo Freire. Pendidikan semestinya mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan alternatif sejatinya yang lebih holistis, humanis, dan kreatif. Pendidikan mestinya mengedepankan empat dimensi: ekonomis, sosial, kultural dan personal. Pendidikan harus bisa mentransformasi anak didik menjadi insan sampaumur yang berpengetahuan, berkepribadian dan berkearifan, tulis Yuswohady. Persoalan utama dan kegelisahan Robinson ialah How Schools Kill Creativity. Walhasil, pendidikan harus melahirkan sosok kreatif, dan sosok pengubah dunia. Untuk lebih detail, ada buku Tony Wagner, Creating Innovators: The Making of Young People Who Will Change the World, 2015. (Kompas, 11 Januari 2016, h.29). Sebagai ikhtiar untuk mencetak penerima didik yang kreatif dan berinovasi, barangkali tepat untuk mengimplementasikan professional learning. Profesional learning yang dimaksud, pokok- pokok pikirannya sebagai berikut: 1. Anak- anak Indonesia banyak ilmu tetapi kurang praktek, action dan karakter. Oleh karenanya sejatinya pendidikan kita mengajarkan inovasi, kratifitas, critical thinking, action dan character. Karakter ini sebagai softskill sangat penting dan menuntun seseorang mencapai puncak kesuksesan. Dalam bahasa Agama, abjad ialah akhlak. Akhlak sangat utama bagi sebuah generasi bangsa. Innama al umamu akhlaqu ma baqiyat wa in humu zahabat akhlaquhum zahabu. Sebuah bangsa bisa survive kalau akhlaknya masih tegak. Ketika budpekerti sudah hancur, tamatlah bangsa itu. Demikian petuah Arab yang ditulis oleh Ibnu Ruslan. 2. Bangsa Indonesia dalam hal kehidupan islami ternyata berada pada posisi nomor urut 146 di dunia. Ini berdasarkan riset Hassan Askary. New Zealand menduduki peringkat pertama. Menurut pengalaman Haidar Baqir yang mondar-mandir di negara Selandia Baru ini, kalau kita kebetulan mau menyeberang jalan, kemudian tolah-toleh, maka orang -orang di sekitar kita akan dengan ramah bertanya, "Bapak mau ke mana?" Ia menunjukkan diri sebagai tempat bertanya. Tentu pemadangan Haidar menyerupai ini sangat kontras dengan warga Jakarta dan kota metropolis lainyya yang serba sibuk dan sudah sulit bertanya. Kalau pun kita bertanya, biasanya mereka memberikan balasan sekenanya. 3. Pendidikan kita harus mencreate multi kecerdasan, yakni logika, matematika, dan bahasa. Siswa yang cerdas bukan hanya yang jago matematika dan sains, tetapi juga bagi mereka yang andal bidang bahasa atau olah raga. Multiple intelligence penting untuk diperhatikan setiap guru. Sebab, faktanya ada anak didik yang terlanjur diclaim anak ndeso hanya alasannya ialah pelajaran matematikanya tidak memenuhi standar. Padahal yang bersangkutan mempunyai keahlian estetik atau kinstetik lainnya. Sehingga pada praktiknya, ada saja guru yang telah membunuh kreatifitas anak. Tanoa sadar guru itu telah membunuh masa depan anak tersebut. 4. Siswa harus dilatih positive discipline. Yaitu siswa sanggup berpartisipasi dalam memilih pilihan. Sebab, bawah umur kalau dipaksa akan cepat bosan. 5.Anak-anak diuji persis menyerupai apa yang akan dialami dalam kehidupan nyata. Jangan hingga ada soal ujian yang jauh panggang dari api. Soal ujian yang tidak menggambarkan realitas kehidupan yang sesungguhnya. Jangan mencontoh plot dongeng sinetron kita yang cenderung tidak rasional dan realisitis. Tidak merepresentasikan kehidupan aktual yang sesungguhnya. Revolusi Informasi Revolusi Informasi berdampak luar biasa terhadap reformasi pembelajaran. Dari pembelajaran yang terpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berbasis IT. Sehingga seorang guru hanya berfungsi sebagai fasilitator. Dan kalau mereka kurang tanggap, penerima didiknya sanggup meninggalkannya. Sebab penerima didik membutuhkan perubahan, bukan hanya seorang guru. Pembelajaran juga harus berbasis riset. Seorang guru terutama dosen harus mengajarkan sesuatu berdasarkan hasil riset yang dilakukannya. Guru dilarang hanya mengandalkan pengetahuan 'common sense' kepada siswa-siswinya. Dunia kini sudah terkonek dengan dunia lain. The World is flat, kata Thomas Friedman. Kita tidak hidup sendirian. Penguasaan dan pemanfataan teknologi dalam proses pembelajaran ialah suatu kemestian. Informasi menyebar demikian cepatnya. Sekarang sudah abad paper less culture. Budaya nir kertas. Penggunaan kertas sudah berkurang atau tidak sama sekali. Face booker society. Masyarakat pengguna face book. Semua informasi biasanya sudah ramai dibicarakan di face book. Demikian pula twitter. Seseorang lebih bahagia "berkicau" lewat twitter, bahkan seorang presiden sekalipun. Apa yang akan disampaikan oleh seorang guru di kelas, mungkin sudah diketahui oleh para siswanya. Berkat revolusi IT, informasi sangat cepat beredar. Kejadian di suatu tempat terpencil, dalam waktu yang sangat singkat sanggup diketahui di penggalan dunia lainnya. Itulah imbas Globalisasi. Hampir tidak ada infromasi yang sanggup ditutup-tutupi sekarang. Dulu, guru, Kyai sangat dihormati alasannya ialah merekalah satu-satunya sumber informasi. Sekarang, zaman sudah berubah. Google dan media umum lainnya sudah menyiapkan lebih dari 70% infromasi yang diharapkan manusia. Setiap delapan jam terbit artikel dan buku baru. Dalam hitungan detik, informasi apa pun yang kita butuhkan, sanggup dijelaskan oleh Google. Dengan demikian, para pendidik, guru, Kyai, dosen harus mengerti perubahan ini. Materi, metode pembelajaran harus diubah. Kita seharusnya menekankan pada pentingnya critical analysis. Bagaimana menganalisis "tumpukan" atau bahkan "sampah" informasi itu. Hoax sudah bertebaran dan hidangan sehari- hari bagi pengguna internet. Berhati- hati dan waspadalah! Demikian pula dengan orang tua. Perlu perubahan pola komunikasi dalam mendidik putra-puteri kita. Hampir semua anak usia muda sudah memegang hand phone. Itu berarti, aspek finansial dalam keluarga harus diperhatikan. Seorang orang renta tidak bisa lagi mengandalkan konsep "birr al-walidain", berbakti kepada kedua orang renta untuk menakut-nakuti anaknya supaya mereka dihormati. Zaman betul-betul sudah berubah. Seorang anak remaja sudah demikian "gaul". Mereka sudah sangat terkonek dengan seusianya dari selruh penggalan dunia. Anak-anak juga semakin cepat dewasa. Bagaimana menanamkan nilai-nilai kebaikan di tengah revolusi teknologi informasi yang demikian ini? Jangan-jangan suatu waktu, bawah umur kita hanya menghormati orang tuanya alasannya ialah kebetulan merekalah yang melahirkannya. Anak-anak hormat kepada orang renta alasannya ialah "numpang" lewat lahir ke dunia fana ini. Gawat! Akhirnya, kami atas nama panitia mengucapkan terima kasih yang setulus- tulusnya kepada banyak sekali pihak yang telah memberi bantuan demi terselenggaranya program nasional ini. Kepada Pengurus Besar Nahdhatul Ulama wa bil khusus Ketua Umum Prof. Dr. K. H. Saiq Aqil Siraj, M.A yang atas aba-aba dan bimbingannya selama ini. Kepada Ra'is Am PBNU, K. H. Ma'ruf Amin atas motivasi dan pemikirannya yang terus menginspirasi jama'ah dan jam'iyah Nahdhatul Ulama. Kepada Dr. K.H. Asep Saifuddin Halim, Ketua Umum PERGUNU, atas bimbingan dan keterlibatan eksklusif beliau, sehingga acara ini berlangsung dengan lancar. Melihat sosok Kyai Asep Saifuddin, kita teringat dengan mitologi Yunani, Raja Midas, tha Touch of Midas. Apa pun yang disentuhnya akan menjadi emas. Teladan, kerja keras, ketulusan dia menjadi wangsit dan penyemangat bagi panitia, sentra dan tempat serta warga PERGUNU. Kepada Tuan Rumah Drs Tuan Guru Taqiyuddin, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Al- Mansuryah, Lombok, NTB. Dengan semangat dan "telaga hatinya" keluarga besar pondok ini sanggup menyelenggarakan perhelatan nasional ini. Tangan masbodoh dia dan keluarga serta keikhlasan ialah modal utama mereka, sehingga program ini terselenggara dengan baik. Kepada Gubernur NTB, Dr TGB Zainul Majdi, M.A --beserta segenap jajarannya, wakil Gubernur H. Muhammad Amin dan Kepala Biro NTB--sebagai umara dan ulama, kita memberikan terima kasih yang setinggi-tingginya. Kita do'akan dia supaya diberi amanah yang lebih besar di negeri tercinta ini, Indonesia. Kepada Bapak KAPOLDA NTB dan beserta jajarannya, atas perhatian dan pemberian keamanan selama program berlangsung. Kepada. Bapak Bupati Lombok dengan jajarannya, terima kasih atas support dan kerjasamanya selama ini. Kepada wartawan atas kerja samanya mengembangkan informasi kepada segenap lapisan masyarakat, sehingga program ini terinformasi dengan baik hingga lapisan masyarakat paling bawah. Kepada seluruh alim- ulama, para guru Nahdhatul Ulama sebagai hero tanpa tanda jasa, terima kasih atas do'a dan ketulusannya dalam mendidik anak bangsa ini, sehingga Indonesia masih bisa tegak dan berdaulat hingga hari ini. Berkat jasa dan baktimulah, sehingga anak- anak bangsa ini bisa tegak kepalanya setara dengan bangsa- bangsa lainnya di dunia internasional. Akhirnya, kami memohon maaf, sekiranya ada hal yang kurang pas selama program ini berlangsung. Kekurangan fasilitas, hospitality, penjemputan, hidangan makanan yang sangat sederhana, kami mohon maaf. Yang niscaya semua hidangan yang kami hidangkan, sehat dan dijamin halal. Abu A'la al- Ma'arry pernah berkata: iza atatka madzammaty min naqish-in. Fa hiya al- syahadat-u ly bi anny kamil-un. Jika hingga isu kekurangan diriku kepadamu. Itu mengambarkan kesempurnaan akan diriku. Wa Allah al- muwaffiq ila aqwam al- tharieq Wassalamu 'alaikum warahmatullah wabarakutuh.
Advertisement