Hidup dan karya Jalaluddin Rumi diurai dengan sangat indah dalam karya Annemarie Schimmel yang berjudul I Am Wind, You Are Fire, 1992. Menelusuri jejak langkah Rumi setapak demi setapak sangatlah indah. Hampir semua sepak terjang Rumi diurai dengan sangat terperinci dalam buku ini. Hampir semua pandangan dan syair sufi Rumi disyarah dengan sangat apik dalam buku ini. Sebuah karya yang menawan.....schimmel telah menyajikan cerita hidup dan karya- karya Rumi secara mendalam, puitis dan hidup, kata Seyyed Hissein Nasr. Ada cerita Rumi dalam Matsnawi, loncatnya kacang polong dari periuk. Kacang polong mengeluh alasannya ialah kepanasan dimasak. Namun, ibu rumah tangga menjelaskan kepada sayur- mayur bahwa mereka harus menjalani ujian ini beberapa saat. Kini mereka harus mencicipi api kemurkaan Tuhannya. Setelah itu,mereka tumbuh berbahagia bermandikan matahari kemurahhatian Tuhan. Setelah sayur- mayur itu betul- betul matang dan lembut, barulah insan menyantapnya. Makanan dimakan dan disaring dalam badan insan dan diubah menjadi sperma dan menjelma insan baru, khalqan akhara. Dalam kitab Ma' akil karya Baha'i Walad dikisahkan, Bahwa ia melihat air dan roti dalam perutnya. Air ini, roti ini, dan buah- buahan ini mempunyai pengecap dan seraya memuji Tuhan dengan suara- bunyi permohonan....otu berarti bahwasanya dalam Islam tidak ada makhluk mati. Semua mempunyai pengecap untuk bertasbih kepada Tuhan....setiap masakan mempunyai pengecap untuk mengingat Tuhan. Manusia mirip periuk besar. Baunya tergantung jenis masakan yang disantapnya. Pada perjamuan primordial manusia, alastu bi rabbikum...qalu bala....yang pada hari itu, sebelum adanya hari, minuman cinta dibagi- bagikan. Dan setiap insan meneguk dan memperoleh anggur cinta seduai dengan kapasitas masing- masing. Rumi menengarai gurunya, Syamsuddin banyak meneguk anggur cinta pada perjamuan primordial itu. Kalau insan mempunyai periuk besar yang terbuat dari emas, maka tidak akan terhitamkan oleh asap dan kotoran. Ia akan tetap bernilai tinggi. Dalam kitab Fihi ma Fihi, Rumi memberi tamsil wortel untuk dunia. Dikisahkan seorang badui yang selama ini bersenang -senang dengan manisnya wortel. Ia sangat puas dengan manisnya wortel. Setelah ia ke Konya, ia mengenal manisnya halwa. Barulah ia menyesal, betapa jauhnya ia dari kenikmatan spiritual selama bertahun- tahun. Samal halnya cerita seorang Badui lagi yang membawa air payau dan mempersembahkannya buat Khalifah Baghdad. Air payau itu dikumpulkan usang dari titik- titik hujan di tengah gurun pasir. Si Badui tidak tahu bahwa sungai Tigris telah tersedia air cantik yang melimpah ruah. Seseorang beribadah kepada Tuhan dengan impian menyenangkan Tuhan. Dan berikutnya, ia akan diberi pahala yang melimpah- ruah. Padahal, Tuhan sendiri tidak butuh untuk disembah. Rumi juga sering menyebut mabuknya sang pencinta. 'Isyq, 'asyiq, dan ma'syuq. Cinta, pencinta, dan yang dicinta. Amsal anggur yang disering diucapkan Rumi. Anggur itu juga sebagai tamsil jiwa manusia. Anggur semula masam. Lalu dimasak sinar kasih sayang oleh matahari. Sampai anggur itu menjadi manis. Pada saat- ketika tertentu anggur diperss, dimasak untuk waktu yang usang samapi mencapai perkmez. Anggur mencapai tahap komposisi kekentalannya mirip madu. Anggur ibarat perkembangan dan nasib jiwa insan yang harus menjalani cobaan dan penderitaan. Agar jiwa insan itu menjadi lebih matang dan manis. Kondisi 'asyiq- ma'syuq dan keadaan khamriyah, mabuk dilukiskan oleh Rumi dalam Matsnawi. Seorang inspektur polisi menyidik napas seorang pria yang mabuk, tidak mampu bangkit tegak. Sang inspektur memerintahkan biar lelaki itu mengucapkan Ah!. Tetapi lelaki itu yang bahwasanya seorang sufi malah berteriak Hu, Hu!. Sang darwis pada selesai meditasi mistikalnya berterik He, He, He!. Sang inspektur jadinya marah. Akan tetapi lelaki itu tetap saja keras kepala untuk terus menyebut Hu, Hu! Sebab, Hu, Hu! Adalah ungkapan puncak kegembiraan. Sedang Ah, Ah! Adalah representasi dari dukacita. Puisi Rumi lagi perihal orang yang naik haji. Sang haji mencium watu hitam Ka'bah Karena yang dipikir kannya bibir kekasih. Puisi ini didendangkannya ketika Rumi menyaksikan sekelompok Badui merampok jemaah haji. Peristiwa itu, disanksikannya ketika dia dan keluarga sedang melaksanakan perjalanan dari Khurasan ke Konya. Tetapi mereka singgah dulu menunaikan haji.
Advertisement