-->

Ceramah Prof Nasar Umar

Ceramah Prof Nasar Umar
Ceramah Prof Nasar Umar
Saya kira bukan ceramahnya yang penting, tetapi kebersamaan. Munculnya lima budaya kerja, ada asbab nuzulnya. Ketika H. lukman Hakim Saifuddin menjabat Menteri Agama RI, diperkenalkan dengan konsep lima budaya kerja yang berbeda dengan kementerian lain. Bagaimana kita memperkenalkan inner power kita. Banyak insan yang tidak mengenal dirinya. Ada riwayat yang berbunyi, man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu. Arafa di sini ialah fiil madhi. Siapa yang sudah mengenal dirinya.... Makara kita sudah mengenal dirinya..... Manusia sebelum keluar dari rahim ibunya.....ditest oleh expert yang luar biasa. Yakni Tuhan sendiri...alastu bi rabbikum....bala.....bukan na'am, yes. Bala itu bermakna pasti. Manusia diciptakan dengan kedua Tangan Tuhan. Ma manaaka khalaqta bi yadayya....khalaqtu, bukan khalaqna. Manusialah yang satu satunya makhluk yang bisa merepresentasikan khalifah di muka bumi. Manusia selain bisa menjadi hamba juga bisa mempunyai khalifah. Malaikat hanya bisa hingga pada hamba. Potensi insan bisa hingga pada derajat insan kamil. Manusia sempurna. Malaikat dengan seluruh makhluk yang tercipta dengan jamaliyah. Prof Sayyed Hossein nasr, bahwa insan ialah makhluk fluktuatif. Sebagaimana disebutkannya dalam karyanya Idealiaty and ...... Hebatnya insan bisa mencapai derajat tertinggi, juga sanggup menjadi asfala safilin, derajat terendah. Seandainya insan semuanya berbuat baik, maka barangkali Allah Swt bisa menciptkan makhluk lainnya yang bisa berbuat dosa. Itulah menggambarkan kesempurnaan Tuhan ada makhluk pendosa. Ada jamaliyah, ada juga jalaliyah. Tuhan itu al hady, pemberi petunjuk. Ada juga sigat lain Tuhan yang disebut al mudhillu, pensesat. Lima budaya kerja sebagai representasi al hadynya Allah swt. Bukan merepresentasi al mudhillu. Kalau masih ada al mudhillu, kita harus berhijrah. Kita berpindah dari al mudhillu menjadi al hady. Secara horizontal dan vertikal juga ada perbedaan. Segala makhluk Allah itu mempunyai tingkatan- tingkatan. Beberapa ayat merepresentasi maratib manusia. Ada maratib al awwal, dan al thani. Maratib insan mempunyai jarak yang sangat jauh. Melebihi malaikat. Bisa juga melampaui maratib ke bawah, di bawah hewan. Bal huwa al adhallu... Kita harus mencapai maratib al awwal. Maratib tertinggi. Manusia bisa berada pada abjad malaikat, dan binatang. Bahkan insan bisa mencapai derajat divine, mencapai Tuhan. Kita percuma membaca al Quran, tetapi kita tidak bisa melaksanakan hijrah dari maratib al ibtidaiyah dan naik ke atas maratib khalifah. Dan kita konsosten di atas. Semua unsur paling bawah dan yang paling atas, ada pada manusia. Sesungguhnya, kita juga tidak mengenal makhluk mati. Tumbuh- tumbuhan, makan, bertumbuh, sama dengan kita. Kita juga sama dengan binatang. Kita berbeda dengan makhluk lain ialah kita mempunyai ruh. Khalqan akhara, ini ialah ruh. Wa nafakhtu fihi min ruhi... Dan saya menginstall ruhku. Mengapa malaikat disuruh sujud kepada Adam? Karena Adam mempunyai potensi lahut. Dalam buku kimianya Nashruddin......hati insan menyerupai watu mulia. Kita perlu proses kimia batin. Ada juga kimia fisik. Jabir ibn Hayyan bisa mempunyai ilmu yang demikian dahsyat ini. Karena itu, mari kita memilah- milah, kapan insan menjadi biantang, dan kapan menjadi Tuhan. Ini jangan diceramahkan di majelis taklim. Manakala satu perbuatan yang dilakukan oleh insan tanpa niat, mirip perintah Nabi saw, innama al amal bi al niyyat. Kalau al amal tidak perlu al shalihat. Al amal niscaya positif. Di Kemenag, seharusnya divine creation. Tidak ada sifat kebinatangan. Animal creation. Manusia bisa mengimpor pada dirinya, dengan connectingnya dengan Tuhan yang akan melahirkan super power. Laki- laki dan perempuan, jikalau mengerjakan pekerjaan tetapi tidak melibatkan niat. Kalau melibatkan Tuhan, mulai masyiahnya hingga pada istitha' ahnya, maka ini yang disebut sebagai divine creation. Coba lihat tujuh keajaiban dunia, itu lantaran melibatkan divine creation. Ini ialah karya spiritual. Kalau mau mengerjakan sesuatu yang monumental harus melibatkan spiritual. Bulan suci ramadhan, ada banyak insiden besar, lantaran batin insan sedang suci. Divine creation. Kalau ada anak buah berbuat yang mengecewakan, itu berarti animal creation. Kalau ada anak yang kurang ajar, padahal nilainya rangking satu? Lalu kita harus bertanya, dikala terjadi di atas ranjang, apakah animal creation, atau human creation? Kalau kita sebagai animal creation juga akan melahirkan animal creation. Padahal, kita dianjurkan untuk berdoa dulu. Kita harus melibatkan Tuhan sebelum membuat anak. Itulah sebabnya kita mengenal teologi spiritual. Saya dua kali diundang ke China. Saya gres tahu bahwa orang China memperalat saya. Ada 8,5 hektar luas perusahaan itu. Tanpa memakai cleaning service. Sangat bersih. Tidak tukang parkir. Mengkilat semuanya. Tamunya dua ratus orang per hari. Tidak ada selembar daun pun yang bertebaran di situ. Tidak ada satu tetes pun air yang terbuang. Airnya tidak ada yang menetes. Tidak ada tissu yang bertebaran di meja. Padahal ada danau di sampingnya. Ada mini market. Tidak ada penjaganya. Tidak ada CCTVnya. Komponen lap top juga dibentuk juga di situ. Satu komputer untuk tiga orang. Kalau satu meja untuk satu orang, maka akan mubazir. Hasilnya terpuji betul. Yang paling menarik ialah sebelum masuk kerja, mereka melaksanakan meditasi. Mereka memperdengarkan kata- kata hikmah, dan musik. Rulanya di sana, saya juga ada di sana. Tulisan saya di Republika. Digunting- gunting, dan diterjemahkan ke dakam bahasa China. Mereka sangat produktif. Mereka menyayangi pekerjaan sama dengan menyayangi bayi. Di kantor tersebut, tidak ada debu. Tokyo sudah mengganti beberapa kali. So Zou belum pernah mengganti barang- barangnya. Setiap ahad mereka mencuci kaki orang tuanya. Di sana juga tidak ada pemecatan. Pada absesnsinya, errornya karyawan hanya bileh empat item. Kalau di Kemenag, jikalau ada seratus item, barangkali hanya bisa mengerjakan 40 persen. Semestinya kitalah yang mempunyai budaya kerja yang mirip ini. Mohon maaf, shalat jamaah kita tidak tepat waktu. Sangat berbeda dengan Komisi Yudicial, yang rela mengskor sidang untuk melaksanakan shakat jamaah. Pimpinan Suzuki di India menyekolahkan manajernya di luar negeri. Sebagian ke Jepang dan sebagian lainnya ke sentra meditasi. Ternyata tingkat kedisiplinan alumni meditasi jauh lebih tinggi daripada yang dikirim ke Jepang. Ada dua cara untuk mencapai Tuhan, atau mencapai prestasi. Fa siru fi al ardhl. Ada juga jalur atma. Dia cukup di atas sajadahnya. Dia bisa berkeliling dalam ruang mikrokosmos. Mengelilingi batin ini sudah cukup luas. Tafakkur, masih berfikir untuk berjalan. Kalau kita tazakkur, Tuhanlah yang akan bekerja. Lalu, kita tawakkal. Tawakkal ialah tambatlah ontamu, gres bertawakkal. Kalau taslim, di atasnya tawakkal, mirip bayi. Tuhanlah yang pro aktif. Bayi menangis sedikit, orang tuanya berebutan. Bayi dua hari tidak mandi, masih berbau harum. Taslim, tawakkalnya janin, tidak perlu menangis. Cukup berkeinginan, ari- arinya bekerja. Tafwidhnya jenazaj, cukup melipat tangan, orang sudah menggali kubur, mengkafani, dan seterusnya. Sudah banyak yang mengurusnya. Orang- orang bijak pastilah telah mengalami penyucian batin. Mudik bekerjsama bisa melahirkan spirit. Ini tetangga saya. Ini rumah yang pernah melahirkan kita. Berdoa di atas kuburan orang tua, membayangkan wajahnya yang keriput. Kasihan kuburan orang bau tanah ini, tidak terurus. Rumah kawasan kelahirannya tidak terurus. Masjid kawasan ia berguru shalat berjamaah, tidak terurus. Jangan hanya badannya yang mudik, tetapi juga pulang kampung spiritual. Terakhir, mari kita berdoa. Sekaligus kita berani berubah. Kitalah yang paling mengerti dosa langganan kita. Kita harus berani menggunting dosa langganan tersebut. Allah bisa mebaca dekipan mata kita. Maknailah usaha kita hadir di sini, ada keingina kita untuk hijrah sebuah lorong kecil. Shirat al mustaqim, yang akan mengantarkan kita kepada tujuan yang kita harapkan. Inilah beberapa pandangan Prof Nasaruddin Umar dalam Bimbingan Mental Pegawai Diktis, di Hotel Salak, Bogor. Wa Allah a'lam bi al Shawab.
Advertisement