-->

Menguatnya Conservative Turn Di Indonesia

Menguatnya Conservative Turn Di Indonesia
Menguatnya Conservative Turn Di Indonesia
Menguatnya Conservative Turn di Indonesia Kertas Kerja: Muhammad Zain Sejarah Kekerasan Agama Karen Armstrong menulis lagi buku menarik dengan judul: Fields of Blood Religion and the History of Violence, 2014. ...Religions and their followers are inherently violent--or so the popular atheist claim goes. But here Karen Armstrong shows that the true reasons for war and violence in our history often had very little to do with religion. Tesis Armstrong ialah sangat sedikit persentuhan agama yang melahirkan kekerasan. Kekerasan lebih banyak alasannya politik, motif ekonomi dan kekayaan. Selama ini ada pandangan bahwa agama mempunyai dua sisi. Sisi kemaslahatan dan kemafsadatan. Ada tenang dalam agama. Juga ada bencana. Karen menolak pandangan miring terhadap norma dan kepercayaan agama. Agama pastilah sebagai way of life. Suluh kehidupan. Agama, rahmat dan "bencana"? Dalam studi agama-agama, memang biasa kita mendengarkan ungkapan bahwa agama itu mempunyai dua sisi. Yakni sisi perekat sosial dan sekaligus "pemecah". Dengan agama dengan konsep keumatannya sanggup menjadi "kohesi" sosial yang sangat kental. Sebaliknya, dengan pedoman agama yang dipahami dalam aspek tertentu, agama sanggup menjadi pemicu konflik sosial. Contoh kecil, apabila ada orang yang "berpindah" agama, maka hak-hak dalam keluarganya secara otomatis "terputus" termasuk hak waris. Ada hadis yang berbunyi: la yarithu al-muslim al-kafir.Wa la al-kafir al-muslim. Seorang muslim dihentikan mendapatkan dan memberi harta waris dari dan kepada seorang kafir. Demikian sebaliknya. Kalau ada kelompok keluarga yang kebetulan keluar Islam dan memeluk agama lain, atau yang bersangkutan "murtad"--tentu dengan banyak sekali pandangan wacana murtad ini--, maka dia secara otomatis terputus hak-hak kewarisannya. Bagaimana ini? Sebaliknya, bila ada orang kafir atau komunitas lain yang memeluk Islam, maka tanggung jawab sosialnya menjadi tanggung jawab "umat", komunitas muslim. Mereka biasa menyebutnya sebagai "muallaf". Bahkan muallaf ini menjadi salah satu golongan peserta zakat (dari delapan kelompok/ thamaniyat ashnaf). Charles Kimball menulis buku dengan judul: When Religion Becomes Evil, 2008. Buku ini sudah diterjemahkan oleh Nurhadi dan Izzuddin Washil dengan judul: Kala Agama Kaprikornus Bencana, Mizan, 2013. Buku ini menarik alasannya merangkum perjalanan panjang penulisnya yang sudah melanglang buana dalam studi agama-agama besar dunia. Kimball, penulisnya merisaukan konflik agama dan munculnya ektrimisme dalam agama-agama besar dunia, termasuk Islam. Ada fenomena menarik dan kita sulit memahami mengapa sunny-syi'ah di Iraq masih saja saling bunuh-bunuhan? Mengapa gerakan Hizbut Tahrir, Taliban, dll masih saja berkembang subur? Mungkin inilah faktor mengapa gerakan atheisme-intelektual semakin tumbuh subur juga, ibarat Christopher Hitchen dengan karyanya: God is not Great: How Religion Poison Everything (2007), Richard Dawkins, The God Delusion (2006), Sam Harris, The End of Faith (2004), dst. Dulu, kita hanya gelisah dengan karya-karya Karl Max, Das Kapital, Nietzhe, Zaratustra, Charles Darwin, The Origins of the Species, dll. Agama-agama besar dunia harus berbenah diri. Kalau tidak, agama-agama besar dunia akan ditinggalkan. Belakangan, kita melihat gerakan Karen Armstrong yang gencarnya mengkampanyekan "cinta kasih". Pengembaraan Armstrong yang panjang dalam menggeluti studi agama-agama besar dunia ibarat Katolik, Yahudi, Budhdha dan Islam, mengantarkannya untuk beropini bahwa ternyata kita harus segera menampilkan agama-agama pada masa Aksial. Masa Aksial ialah masa sekitar Nabi Ibrahim a.s. Di sanalah sisi-sisi agama yang paling otentik. Demikian pandangan dia dalam The Great Transformation. Peace Education Pendidikan tenang harus terus dikampanyekan dan dipraktikkan. Sebab, sejarah bangsa kita tak sepi dari kekerasan. Kita terlanjur mewarisi sejarah bangsa yang berdarah- darah. Kita terlanjur mencar ilmu sejarah raja dan penguasa, bukan sejarah sosial yang damai. Sejarah agama- agama besar dunia juga sama saja. Semua agama besar tak sepi dari sejarah kekerasan. Rebutan umat menjadi salah satu pemicunya. Dakwah dan missionari atau apa pun namanya juga sanggup memicu kekerasan. Dalam kitab suci ada juga ayat yang dikesankan sanggup menyulut kekerasan. Dalam al Alquran ada ayat- ayat qital ( ayat perang), ayat al saif ( ayat pedang). Dan bahkan jihad biasa pula diterjemahkan dengan the holy war, perang suci. Shahid atau syuhada, mati sebagai martir ialah merupakan dambaan umat Islam awal. Bahkan kini pun, mati syahid merupakan dambaan sebagian orang yang menyatakan diri sebagai pejuang Islam. ' isy kariman atau mut syahidan. Hiduplah mulia atau matilah secara syahid. Padahal, al Alquran ,enganjurkan biar kita selalu meninggal dalam keadaan muslim. Khatib jumat selalu membaca QS Ali Imran ayat 102, .....ya ayyuha al alzina amanu ittaqu Allah haqqa tuqatih. Wa la tamutunna illa wa antum muslimun... Padahal, setiap harinya kita selalu mewiridkan:...Allahumma anta al salam, wi minka al salam, wa ilaika ya'udu al salam. Fa hayyina rabbana bi al salam. Wa adkhilna al jannata daral salam. Ya zal jalal wal ikram. Ada lagi do'a yang selalu dialntunkan oleh Nabi shalla Allah alaih wa sallama: ...Allahumma ashlih lana dinana al lazi wuwa 'ishmatu amrina. Wa ashlih lana dunyana al lazi fihi ma'asyuna. Allahumma ashlih lana akhitana al lati ilaiha ma'aduna. Allahumma aj'al al hayata ziyadatan lana fi kulli khair in. Wa aj'al al janjkematian rahatan lana min kulli syarrin....visi kita ialah hidup damai. Hidup memberi mashlahat. Hidup harus membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Hidup sejahtera. Hidup yang bahagia. Dan bila mati masuk surga. Ketika kita shalat dimulai dengan takbir al ihram. Sebuah penegasan bahwa yang Maha Agung hanyalah Allah Swt. Selain-Nya hanyalah kecil. Shalat diakhiri ucapan salam. Allah akbar harus meneri dampak keselamatan, kebahagiaan, dan kemaslahatan. Berbeda dengan video ISIS yang menggunanakan lafaz Allah akbar untuk memukul dan menyiksa kaum perempuan. Allah akbar bukanlah simbol kekerasan. Lafaz Akbar jalla Jalaluh harus diteruskan Allah al jamal, Allah Maha Indah. Jalaliyah Allah harus diimbangi dengan jamaliyah- Nya. Inna Allah jamilun yuhibbu al jamal. Sesungguhnya Allah Swt ialah Maha Indah, dan sangat menyukai keindahan. Ini salah satu hadis yang dikutip oleh Imam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya al Istiqamah. Ibu Taimiyah memberi referensi salah satu hadis Nabi shalla Allah 'alaih wa sallama yang maknanya kira- kira ibarat ini bahwa bila seseorang menggunakan pakaian yang indah dan elok dipandang, itu sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah yang Maha Indah. Karen Atmstrong dalam karya teranyarnya, Fields of Blood Religion and the History of Violence, (2014) menolak tesis para ateis yang menyatakan bahwa agama dan para pengikutnya sangat bersahabat dengan kekerasan. Armstrong menegaskan bahwa pandangan yang benar ialah sangat sedikit perang dan kekerasan yang terjadi atas nama agama.....that the true reasons for war and violence in our history often had very little to do with religion. Islam Indonesia sebagai Referensi Dr Carool Kersten dalam bukunya: Islam in Indonesia, the Contest for Society, Ideas and Values (2015) menegaskan bahwa Pengalaman Indonesia dalam berdemokrasi sanggup menjadi "alternatif ketiga" (third way) dan menjadi pilihan yang sempurna di tengah ambigu negara- negara lebih banyak didominasi muslim dalam menentukan perilaku antara menentukan negara sekuler dan atau negara Islam. Posisi strategis Indonesia dari segi geografis, demografis dan ekonomi menjadi daya tarik tersendiri. Indonesia berada di tengah poros perdagangan Asia- Pasifik. Indonesia ialah negara demokrasi terbesar ke- empat dunia. Indonesia mempunyai penduduk muslim terbesar nomor wahid dunia. Pasca Arab Spring, dunia semakin tertarik melirik Islam Indonesia. Fenomena ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) dan Boko Haram semakin memperteguh pentingnya dunia Islam terutama Timur Tengah untuk tiba mencar ilmu ke Indonesia. Gerakan dan agresi ISIS telah memporak- poranda legacy, warisan, dan khazanah peradaban dunia. ISIS dan Boko Haram juga memperabukan buku dan manuskrip- manuskrip yang tak ternilai harganya. Membakar manuskrip berarti telah memotong generasi. Mereka telah menghilangkan nyawa orang- orang yang tak berdosa. Dan yang paling menyedihkan, mereka juga telah dan sedang menghancurkan peradaban manusia. Hal ini juga semakin memperkuat bahwa Islam Indonesia ketika ini, tidak lagi dipandang sebagai Islam peripheral. Islam pinggiran yang tidak menentukan. Tetapi Islam Indonesia ialah Islam mainstreaming. Islam Indonesia sejatinya menjadi referensi dunia dalam demokrasi dan moderasi Islam, Islam wasathiyah. Islam Indonesia ialah genuine dan otentik. Tokoh-tokoh pemikir muslim kontemporer Indonesia, ibarat Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Amin Rais, Buya Ahmad Syafi'i Ma'arif mempunyai corak pemikiran yang khas dan otentik. Artikulasi dan pergumulan pemikiran antara sekularisme, liberalisme, pluralisme dan Islam sanggup diselesaikan dengan baik. Pemikiran beliau- dia ini semuanya bermuara dan berujung pada "Islam Moderat", Islam wasathiyah. Meskipun tidak sanggup dibantah bahwa 15 tahun terakhir, di Indonesia juga terdapat fenomena Conservative Turn, pembalikan wajah Islam yang ramah, tenang dan santun ke arah konservatif dan radikal. Menurut penelitian Prof Martin van Bruinessen, dkk, bahwa Conservative Turn tersebut juga sudah masuk pada lembaga- forum formal di Indonesia, ibarat Ormas-ormas dan forum pendidikan. Halmana, ormas-ormas Islam selama ini tampil sebagai penyangga civil society. Ini ialah warning dan tantangan bagi komunitas akademik dan pemerhati kajian Islam Indonesia. Ini ialah tantangan buat kita semua. Bahwa Islam wasathiyah harus menjadi common platform kita dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Kita harus terus berdiskusi dan membuka "ruang dialog" untuk saling memperkaya dan mencari titik temu. Barangkali menarik untuk kita diskusikan lebih jauh temuan Michael Laffan, dalam bukunya: The Making of Indonesian Islam, bahwa Islam Indonesia yang sering digambarkan sebagai Islam moderat, bahwasanya terjadi alasannya jasa para ulama sufi yang memainkan tugas aktif dalam membentuk tradisi- tradisi Islam Indonesia. Kalaupun ada praktek intoleransi dalam penyebaran Islam, hal itu ialah efek dari penaklukkan tentara Arab. Peran ulama- sufi ibarat Nuruddin ar Raniny, Abdul Rauf Singkel, Abd Shamad al- Palimbani, Syeikh Muhammad Arsyad al- Banjari, Syeikh Yusuf al- Makassari, Syeikh Nanawi al- Bantani, penyair Hamzah Fansuri, pujangga Ronggowarsito sangatlah besar pengaruhnya dalam membentuk tabiat dan aksara Islam Indonesia. Karakter Islam Indonesia lebih mengedepankan budbahasa dan etika dalam pergaulan. Islam Indonesia juga lebih akomodatif terhadap budaya dan kearifan lokal. Tegasnya, nilai-nilai universal Islam tiba untuk “memahkotai” budaya lokal. Islam Indonesia yang moderat, tenang dan santun harus terus dirawat dan diperkuat biar dunia semakin damai, kondusif dan toleran. Saya tidak sanggup membayangkan, bagaimana tatanan dunia Islam tanpa Islam Indonesia. Kita ini mewarisi pelajaran Sejarah Islam politik yang berdarah-darah. Sejarah perang. Al Maghazi, kitab al Maghazy, Prof Ahmad Amin menolak riwayat riwayatnya. Banyak mitos daripada fakta. Prof Marshal Hudgson, the Venture of Islam. Saya ingat cak Nur ( Prof Nurcholish Madjid) peradaban Indonesia kok candi Borobudur, prambanan. Ketika ke Masjid Istiqlal, yang kotor, amis pesing, dan tidak tertata. Dennys Lombard, 30 tahun meneliti, NusaJawa, Silang Budaya, tiga jilid. Lapisan Islam Indonesia sangat kuat. Penetrasi Islam Jawa sangat dalam. Lapisan lapisan terdalamnya sangat kuat. Sehingga Islam Indonesia tidak gampang tergerus. Sejak kolonialisme Belanda, dan Dai Nippon, Jepang. Islam masih tegak. Di Jawa ini terjadi akulturasi Islam. Akulturasi budaya, peradaban besar dunia. Dari Arab, China, India. Semuanya Menyatu di Indonesia. Tidak saja Arab. Michael Feaner, Islamic Connections, kekerabatan ulama Nusantara dengan Yaman, Ma'bar. Ada enam puluh orang anak Indonesia di sana, tetapi mencar ilmu Wahabi. Wahabi ini sudah gagal mengurus Kakbah. Mengurus Haji. Menghilangkan sirah nabi. Jejak langkah. Prof Hossien Nasr, musuh sufisme ialah wahabi. Awas, Atheisme Baru? Suatu pagi di London, kami berkunjung pada sebuah Sekolah Menengah Pertama. Kami melaksanakan studi banding pengajaran agama di sekolah umum. Kami bertemu dengan Bu Emily. Seorang guru agama yang energik dan antusias dalam mengajar. Ia tampak disenangi oleh murid-murid dan mitra sejawatnya. Penampilannya kasual. Familiar. Dan juga cantik. Di penghujung program saya sempat bertanya mengenai beberapa buku pajangan di belakang mejanya. The God Delusion, karya Richard Dawkins, salah satu buku yang berjejer di perpustakaan mini miliknya. The God Delusion ialah buku yang kontroversial yabg mempropagandakan atheisme lewat pendekatan sains (biologi). Dalam karyanya ini, Dawkin berulang kali memproklamirkan dirinya sebagai seorang atheis. Dan dalam batas-batas tertentu kuga ia seorang agnostik. Ia berkeyakinan bahwa Tuhan personal dan maha pencipta secara sains sudah tidak ada. Tuhan pencipta supranatural sanggup dipastikan tidak ada. Bahwa kepercayaan wacana ada Tuhan personal atai tuhan hanyalah hayalan. Delusi. Pada pecahan introduction bukunya itu, ia berkisah wacana pengalaman isterinya yang gelisah mencar ilmu agama. Untuk apa pelajaran agama ini. Bukankah agama tidak mengantar para penganutnya hidup tenang dan bahagia. Ada banyak orang yang sudah gamang dan segera hendak meninggalkan agama yang dipeluk orang renta mereka. Anda sanggup menjadi seorang atheis yang bahagia, waras, bermoral dan puas secara intelektual, imbuhnya. Sebab, ada banyak orang yang secara intelektual menonjol tidak percaya kepada agama Kristen, tetapi mereka menyembunyikannya dari publik, alasannya mereka khawatir akan kehilangan penghasilan, Bertrand Russel, filosof. ( h.127). Kritik terhadap eksistensi dan kehadiran agama bermunculan. John Lennon, artis merindukan dunia tanpa agama. Mungkinkah kehidupan lebih baik dan lebih tenang tanpa agama. Peristiwa 9/11 alasannya fanatisme agama. Perang Salib yang menelan korban sangat besar dan terjadi dalam kurung waktu 200 tahun. Agama Islam disebarkan juga dengan kekuatan militer yang sangat kuat. Agama Kristen juga demikian. Yahudi apalagi. Gerakan jihadis dan kekerasan atas nama Tuhan alasannya agama juga. Bahkan Graham Fuller menulis buku: The World without Islam. Apa akhirnya dunia tanpa Islam. Tentu kita tidak pernah mengenal madrasah. Kita tidak akan tahu Taliban. Kita tidak akan berkenalan dengan kaum jihadis. Selanjutnya, gerakan God without religion juga menguat. Di samping gerakan liberal thinker. Para pemikir bebas tumbuh subur. Pertanyaannya kemudian, akankah agama formal akan ditinggalkan sebagaimana telah diramalkan John Naisbit 20 tahun yang lalu. Bahwa ada kecenderungan agama formal akan ditinggalkan. Spirituality yes, and organized religion no. Inilah tantangan kita. Inilah tantangan agama-agama besar dunia. Agama harus tampil mencerahkan. Bahwa agama harus mendamaikan dan mensejahterakan umatnya. Agama jangan dikacaukan oleh kepentingan politik umat dan para penggagas agama. Bahwa agama sejatinya mengajarkan dan menganjurkan kebaikan. Tetapi ketika agama diseret- seret ke ranah politik tentulah akan mengakibatkan permusuhan dan ceceran darah. Bahwa penelitian Karen Armstrong, politik dan penguasaan atas lahan serta ladang minyaklah yang memicu pertumpahan darah atas nama Tuhan (agama). Wa Allah a'lam bi al shawab.
Advertisement