Pada suatu senja kami berjalan- jalan di Pantai Kuta. Kami naik grab dan melewati Legian. Legian tiba- datang mencuat dikala bencana bom Bali oleh Amrozi. Di sana Tugu sebagai peringatan lebih 200-an warga abnormal dan terbanyak dari Australia. Sepanjang jalan kami mengamati para turis yang bebas bercengkerama di kedai pantai Kuta. Seorang mitra bercerita bahwa turis-turis yang berkunjung ke pantai Kuta yaitu kalangan menengah ke bawah. Seperti tukang ledeng, pekerja kasar, dst. Para turis kelas menengah ke atas menentukan tempat yang lebih eksklusif. Ketika kami pulang dan naik Bali Taksi. Kami membayarnya 100 ribu rupiah. Mas Wawan, sopir Taksi banyak bercerita pengalaman sebagai sopir taksi. Ia sering membawa turis mabuk. Ia tidak banyak bercerita dengan penumpang turis supaya mereka tidak banyak tahu perihal tarif taksi di Bali. Para turis itu terkadang "salah bayar". Mereka mengira standar biaya taksi sama dengan di negara mereka. Mereka sering membayar dengan dolar. Para sopir taksi bahagia sekali bila mendapat pembayaran "SBY". Saya mendapat "SBY", katanya kegirangan kepada sesama sopir. Itu berarti ada turis yang salah bayar. Salah bayar dapat terjadi alasannya yaitu keliru membaca argo. Atau alasannya yaitu mereka kalah dalam nego harga dengan sang sopir. Seumpama ada turis yang rela membayar 700 ribu rupiah ke Tanah Lot. Padahal harga biasa hanya sekitar 250 ribu rupiah. Sesungguhnya dongeng pak Sopir tadi sebagai relresentasi masyarakat yang hidup di negara berkembang. Tipu- menipu masih mewarnai kehidupannya. Barangkali alasannya yaitu kerasnya tantangandan tuntutan hidup. Hampir semua tempat wisata, masyarakat setempat mengalami nasib yang tidak menguntungkan. Mereka berkeliaran di kawasan wisata dan bekerja sebagai pedagang kaki lima, tukang pijat, atau pekerjaan rendahan lainnya. Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah. Agar para pekerja tersebut diberi pembinaan supaya mereka beranjak menjadi pekerja profesional. Mereka semestinya diarahkan untuk menjadi pekerja terlatih. Agar mendapat bayaran lebih tinggi dibanding hanya berprofesi ala kadarnya. Ini kiprah negara. Ini kiprah kita semua. Barangkali, Thailand perlu kita contoh. Thailand mendapat kunjungan lebih 30 juta wisatawan asing. Para turis sangat "dimanjakan" di Seluruh wilayah destinasi Thailand. Sebab, para turis tidak hanya menikmati indahnya pantai atau obyek- obyek wisata. Tetapi mereka juga disuguhi sejumlah hiburan lainnya, sehingga para turis semakin nyaman dan kondusif di Thailand. Makara tesis yang menyampaikan bahwa Thailand diminati wisatawan abnormal alasannya yaitu layanan seksnya yaitu tidak seluruhnya benar.
Advertisement