Saya ingin menyebarkan Ringkasan Seminar Riset PTKI PPIM Jakarta. Narasumber kegiatan tersebut ada beberapa pakar, antara lain Dr Inayah dan Fuad Jabali, Ph.D. "Kasihlah dana penelitian yang banyak kepada dosen. Agar mereka sanggup mengembangkan imajinasi". (Prof Azyumardi Azra). Dr Inayah, Universitas Indonesia Kebanyakan dosen terlatih untuk mengajar. Tetapi tidak terlatih untuk meneliti. Sehingga Terdapat 90% penelitian wacana Indonesia tidak dijalankan oleh akademisi Indonesia. Indonesia tertinggal jauh dalam hal publikasi ilmiyah untuk kajian sosial dan humaniora dibandingkan dengan negara- negara menyerupai Bangladesh, Kenya dan Nigeria. Negara- negara tersebut dikenal sebagai negara dengan GDP yang rendah. Beberapa penghambat riset sosial di Perguruan tinggi Indonesia. a. Terjadinya insularitas di kalangan dosen. Cara berpikir sempit. Stupid! Insularitas berdampak pada kungkungan mobilitas dosen. Tidak ada prosedur untuk ini. Tidak ada ruang masuk sistem capaian universitas. Dosen cenderung meneruskan pendidikannya pada almamaternya sendiri. Padahal mobilitas akademik berafiliasi dengan performa akademik seorang dosen. Inilah efek penerimaan dosen yang tidak terbuka. Di Jawa lebih akrab dengan penguasa dan lebih baik bahasa Inggerisnya. Di Thailand pemerintah sudah mengafirmasi untuk publikasi dalam bahasa Inggeris. Meskipun ada jurnal yang afirmative untuk bahasa ibu, lingua pranca. b. Dosen lebih tergiur menjadi nara sumber atau konsultan daripada meneliti. Sebagai nara sumber jauh lebih baik, lebih cepat menghasilkan gaji yang banyak. Seorang peneliti mendapat derma 100 juta, laporan keuangannya sangat rigid. Fuad Jabali, Ph.D, ( pembahasan di Marbella Hotel, Bandung). 1. Orang- orang pinggiran yang termarginalkan dimasukkan ke tengah. Orang- orang yang tercecer diwawancara untuk mendapat wacana penyeimbang. Ide-ide postmodernisme diangkat. Sehingga kita tidak melulu berkutat pada "great tradition". 2. Akhir- final ini Fakultas Keagamaan ditengarai semakin " mengkerut". Perlu upaya- upaya sistematis dan keberlangsungan untuk ini. 3. Kedaulatan pangan ada budaya dan nilai di sana. Orang- orang umum dipaksa untuk melibatkan orang- orang agama. Penelitian sosial keagamaan bila dikemas dengan baik, juga akan sangat diminati dan seksi. Pendekatan riset sosial keagamaan harus induktif. Penelitiannya harus berbasis data. Semestinya tri dharma perguruan tinggi dimulai dari dedikasi masyarakat. Lalu penelitian. Dan gres publikasi ilmiyah. 4. Kita membutuhkan pengetahuan yang cukup mengenai peta anutan para dosen muda. Kita harus mengerti " langit" keilmuan mereka. Ilmu apa yang mereka geluti selama ini. Mengapa ada dosen yang tidak cocok antara gelar akademiknya dengan "kelakuan" akademiknya. Peta dosen itu penting. Peta prodi yang dibuka di PTK juga penting. Sebaran dan distribusi aktivitas studi di seluruh Indonesia juga penting. Sebaran dosen dengan keahlian spesifik juga perlu. Misalkan dosen yang mempunyai keahlian "konflict resolution" mestinya diletakkan di Manado, Palu, Ambon, dan Jayapura. Studi sosiologi Hukum mestinya di Banda Aceh Darussalam, dst. 5. Dosen peneliti. Kita harus mencetak dosen generasi baru. Dosen next generation berbeda dengan generasi sebelumnya yang saling mengintip, saling menjegal dan bahkan saling menjatuhkan. Competitiveness harus menjadi habit dosen kita. Intrik- intrik yang tidak berbudaya tinggi harus dijauhkan dari dosen generasi baru. 6. Pembibitan peneliti. Dengan aktivitas research skill, keterampilan meneliti. 7. Pembentukan Tim Reader Nasional, pembaca ahli. 8. Penguatan konsorsium ilmu untuk dua hal: a. Menggalakkan collaborative research, dan b. Penguatan penerbitan artikel pada jurnal yang mempunyai keilmuan yang serumpun. Terdapat 8 Agenda dan tema riset a. Fenomena Medsos b. Produk halal. Wisata Halal. Plan of prosperity. c. Pengembangan ekonomi umat ( ekonomi pondok pesantren) d. Industri umrah e. Wakaf produktif f. Pemanfaatan dana zakat g. Peningkatan kualitas Madrasah Vokasional g. Gejala Ideologi Transnasional i. Pemanfaatan IT untuk Tatakelola. Sekarang ini, kita sangat membutuhkan diskusi serius mengenai Agenda Riset Keagamaan Nasional ( ARKAN). Sebagaimana Kemenristek Dikti telah mempunyai Buku Induk Riset Nasional. Sehingga riset keagamaan kita mempunyai panduan dan arah yang jelas. Riset keagamaan tidak terkesan berjalan sporadis. What next?
Advertisement