-->

Temuan Saintis Muslim

Temuan Saintis Muslim
Temuan Saintis Muslim
Prof Salim T.S al Hassani, 1001 Inventions: the Enduring Legacy of Muslim Civilization, 2012 menulis bahwa kemajuan sain dan teknologi di dunia muslim sungguh luar biasa. Bendungan, menara, kamar mandi, kompas, karpet, universitas, kertas, kincir angin, jam dsb yakni temuan-temuan keilmuan spektakuler saintis muslim yang selanjutnya dikembangkan oleh Barat. Kamar mandi bukanlah temuan Thomas Crapper. Tetapi dimulai dari Romawi dan Bizantium, kemudian dikembangkan di Baghdad. Berikutnya di Turki. Awalnya umat Islam belum mengenal kamar mandi. Mungkin itulah sebabnya ada sebuah riwayat yang berbunyi: bi’sa al-bait lahu al-hammam. Rumah yang paling buruk yakni yang mempunyai kamar mandi. Belakangan merevisi sabdanya tersebut dengan sabda yang baru, ....nikmat al bait lahu al hammam. Rumah ideal yakni yang mempunyai toilet. Iran sanggup berbangga lantaran sanggup membangun Museum Karpet”” yang masih menyimpan ratusan model karpet dari zaman ke zaman. Ada juga Si-o-se bridge di Isfahan masih merupakan cagar budaya dunia yang mencengangkan. Sebuah jembatan yang mempunyai tiang pancang sebanyak 33 buah. Konon, itu melambangkan hitungan tasbih sebanyak 33 kali setiap selesai shalat lima waktu. Bahwa setiap orang yang melewati jembatan tersebut akan selalu mengingat ke-maha-kuasaan Tuhan. Imam Abu Hanifah, salah seorang fuqaha yang dinisbahkan kepada ia mazhab Hanafi, dicatat oleh al-Khathib al Baghdady dalam Tarikh al-Baghdad, sejarah panjang kota Baghdad, bukan hanya seorang fuqaha, andal aturan Islam, tetapi sebagai pemenang tender pembangunan waduk di Baghdad. Beliau juga populer sebagai pemilik toko Fashion terkemuka di Baghdad. Ia seorang fuqaha di pagi hari, seorang insinyur waduk pada siang hari. Seorang andal fashion pada sore hari. Dan seorang ulama sufi pada malam harinya. Imam Abu Hanifah mempunyai kombinasi dan penguasaan keilmuan yang hamper sempurna. Ibnu Rusyd juga demikian. Kana faqihan, wa thabiban, wa failasuf. Seorang fuqaha di pagi hari. Membuka praktek pada siang hari. Mengajar filsafat di sore hari. Dan seorang sufi pada malam harinya. Edward G. browne dan Muhammad Iqbal menulis buku Islamic Medicine untuk mengatakan tradisi ilmu kedokteran dalam Islam. Dunia Islam sangat maju pada bidang sains, teknologi, dan kedokteran. Sampai ada teori yang menyebutkan bahwa al-ilmu ilmani. Ilmu al-adyan wa ilmu al-abdani. Dalam Islam, ilmu itu ada dua macam. Ilmu agama, theologi, dan ilmu kedokteran. Sedari dulu, ilmu kedokteran yakni potongan yang terintegral dengan ilmu- ilmu ke-Islaman lainnya. Ibnu Sina, Ibnu al-Haitham, al-Biruni, Nashiruddin al-Thusy dan al-Razy yakni seretan nama saintis muslim kenamaan. Ibnu Sina (Avicena) yakni penulis kitab al-Qanun fi al-Thubb yang memuat teori-teori kedokteran termasuk anatomi manusia. Dengan karyanya ini, Ibnu Sina diberi gelar sebagai Bapak anatomi dunia. Dalam kitab ini pula sudah dibahas secara rinci mengenai al-maniyyu al-muwallidah. Wa al-maniyyu ghair al-muwallidah. Sperma yang produktif dan yang mandul. Beliau juga sudah mencatat lebih dari 20 ribu flora yang mengandung obat-obatan. Catatan ia luar biasa lantaran meliputi fauna yang belum didapatkan di negeri di mana ia lahir dan dibesarkan, Persia. Itu berarti, Ibnu Sina membaca berbagai literatur sehingga menemukan sejumlah gosip yang demikian lengkapnya. Hal yang sama juga ditulis oleh Prof Raghib al Sirjani, ma dza qaddama al muslimun li al ' alami ishamatu al muslimin fi hadharat al Insaniyah, 2009. Betapa besar jasa saintis muslim bagi ilmu pengetahuan dan sains. Dan semua ilmu itu bermuara kepada pengagungan kepada Tuhan. Ia mencontohkan M. Abdus Salam. Ia yakni saintis muslim akseptor hadiah nobel sains, fisika dan nuklir. Dan dalam pidato pengukuhannya, ia mengutip Q.S al Mulk(67) ayat 3-4. ..... al lazi khalaqa sab'a samawat in thibaqan....ma tara fi khalqi ar rahmani min tafawut....far ji' l bashara hal tara min futhur....thumma irjiil bashara karratain yanqalib ilaika la basharu khasian wa huwa hasir....Dialah Tuhan yang membuat tujuh petala langit berlapis- lapis. Apakah engkau melihat ketidakseimbangan pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah itu. Kemudian, lihat sekali lagi. Penglihatanmu akan kembali, dan tidak menemukan cacat pada penciptaan Tuhan tersebut. Kesimpulan beliau, tidak ada pertentangan antara doktrin seseorang dengan penemuan- inovasi modern. Tentu kita akan menemukan kesimpulan yang berbeda ketika membaca pandangan Stephen Hawking, yang masih " malu- malu" menyebut keterlibatan mutlak Tuhan dalam Big bang theorynya. Bisa kita simak dalam buku terbarunya The Grand Design. God did not create the universe. Karena adanya aturan gravitasi, tata surya sanggup membentuk dirinya sendiri. Penciptaan impulsif yakni alasan mengapa " sesuatu" dan kita ada. Tidak perlu memohon kepada Tuhan untuk memulai segalanya dan mengendalikan alam semesta. (2010). Jane, isterinya menyebut bahwa Hawking telah ateis pada ketika perceraiannya. Hawking beropini bahwa alam semesta diatur oleh aturan ilmu pengetahuan. Mungkin saja diciptakan oleh Tuhan. Tetapi Tuhan sendiri mustahil mengintervensi aturan ilmu pengetahuan. Agama itu berlandaskan pada otoritas, sedang ilmu pengetahuan menurut observasi dan argumentasi rasional. Ilmu pengetahuan akan menang terhadap agama lantaran memang terbukti benar. Di sinilah pentingnya kehadiran saintis muslim menyerupai Prof Nidhal Guessoum, fisikawan yang juga sangat shaleh. Beliau menulis buku Islam's Quantum Question: Reconciling Muslim tradition & modern science, 2010. Bahwa Islam telah mengalami tradisi akademik dan sains yang sangat panjang. Bahwa aliran al-Qurán menyerupai mukjizat harus didialogkan dengan temuan-temuan sains terbaru. Bahwa kurikulum pendidikan Islam—baca Arab-harus dirombak total. Bahwa umat Islam harus berdiri dan mengembalikan kejayaan pada masa tengah. Di mana para filosof, dan saintis muslim merupakan jembatan emas”” bagi kebangkitan imu pengetahuan dan sains modern di barat. Bahwa integrasi agama, wahyu dan sains sudah sangat apik dijelaskan oleh Ibnu Rusyd dalam kitabnya: Fashl al-Maqal bain al-Hikmah wa al-Syariáh min Ittishal. Upaya mempertentangkan antara wahyu dan sains yakni sesuatu yang absurd. Wa Allah a’lam.
Advertisement