Aku rela dipenjara, asalkan aku bersama buku. Sebab dengan buku, aku bebas, kata Bung Hatta. Barangkali kalimat ini diucapkan sang proklamator kita ini saat hendak bertolak ke penjara Digoel. Penjara Digoel populer seram. Tidak ada orang yang sanggup melarikan diri. Sebab, jikalau ke bahari atau sungai, niscaya akan bertemu dengan buaya yang ganas. Kalau melarikan diri ke gunung akan disantap oleh para kanibal. Dan jikalau kelamaan di penjara, maka akan mati oleh nyamuk malaria. Mengapa Bung Hatta sanggup bertahan? Berkat membaca buku. Itulah nikmatnya si kutu buku. Bahwa buku ialah sobat di kala bahagia dan susah. Sewaktu aku ke Oxford, Inggeris, aku memndapat kisah dari sorang mitra dsri Kementerian Keuangan RI. Bahwa ternyata Andi Mallarangen saat ditahan oleh KPK ( Komisi Pemberantasan Korupsi ), ia eksklusif membawa buku yang berjudul: Inferno karya Dan Brown. Novel ini berkisah wacana neraka dunia ynag paling gelap. Lalu, bagaimana seseorang penghuninya sanggup bertahan? Barangkali dengan membaca buku, Dr Andi Mallarangen sanggup mengusir kepenatan dan kegalauannya di dalam sel KPK. Sedikit pengalaman aku mengenai buku. Ke mana pun aku pergi, maka aku memperhatikan sudut- sudut dan belokan kota yang aku kunjungi. Adakah toko buku di sana. Toko buku penting, alasannya sebagai representasi minat baca masyarakat. Semakin tinggi literasi suatu masyarakat, maka semakin ramai kunjungan ke toko buku atau perpustakaan. Sayang sekali, di negeri kita ini tidak mirip negara- negara maju yang menyiapkan perpustakaan sentra yang menjadi kunjungan bagi masyarakat umum. Hong Kong umpamanya, mempunyai perpustakaan besar di tengah kota. Masyarakat umum bebas mengakses informasi lewat perpustakaan kota tersebut. Ada juga ruangan besar khusus untuk anak- anak. Segalanya sudah disiapkan. Buku sangat penting. Sebab, buku sudah terbukti sanggup melahirkan peradaban besar dunia yang kita rasakan hingga cukup umur ini. Sehebat apa pun e- book atau digital library, kenikmatan membaca buku masih sangat penting. Disamping lebih mudah, juga kitabterhindar dari radiasi. Berbeda dengan membaca e- book, kita niscaya membutuhkan tenaga listrik, dan niscaya kita terkena radiasi. Kita mau mencoret- coret atau mencatat pecahan tertentu pada buku yang sedang kita baca, tentu hanya sanggup terjadi jikalau kita membaca buku biasa. Toko buku bagi aku sangat penting. Toko buku mirip oase dan sanggup mengusir kepenatan kota metropolitan Jakarta. Setiap aku berkunjung ke kota- kota besar, niscaya aku mencari buku. Bahkan setiap bandara yang aku lewati, niscaya aku melirik sudut- sudut bandara, barangkali ada toko buku kecil. Kalau Cengkareng, niscaya ada periplus. Bandara Juanda Surabaya, Adisucipto Yogyakarta, dst. Dan hal yang menarik ialah pada setiap kota mirip Malang, Surabaya, Ciputat, Banda Aceh, Makassar, aku mempunyai mitra dekat yang menjual buku dan sekaligus mengerti isi bukunya. Di Malang di jalan Wilis, aku mengenal saudara Aan. Ia sudah usang menjual buku. Aan ini Istimewa bagi aku alasannya hampir semua buku yang dijualnya, juga dipahami isinya. Siapa penulisnya. Perhulatan apa yang melatari sehingga sang penulis menerbitkan karyanya itu. Cetakannya laku atau tidak. Sejauhmana pasar antusias membeli buku- buku tertentu. Mas Aan kelihatan sederhana. Tidak tampak kemewahan pada dirinya. Ia hidup sederhana. Baru saja ia membeli toko buku sendiri, sehingga ia tidak lagi harus berpindah- pindah tempat. Ia juga busa menunjukan dengan fasih perbedaan cetakan buku- buku yang terbit dengan penerbit yang berbeda. Adalagi Saudara Nasution dari Medan di Ciputat. Kawan yang satu ini juga unik. Ia sering tampil pada seminar dinkampus. Ia sangatakrab dengan buku- buku langka. Ia juga sangat menguasai buku- buku yang dijualnya. Ia dekat jug dengan literatur kiri di Indoensia. Tetapu belakangan, ia sudah pindah kawasan berdagang. Ia sudah jauh ari kampus UIN syarifhidayatullah Jakarta. Ia terkadang mengeluh perihal kurangnya minat membaca mahasiswa. Saya bilang, barangkali alasannya sudah ada kanal buku digital. Ia menimpali, tidak juga. Memang fenomena belakangan ini mahasiswa cenderung kurang minat belajar. Khawatir jikalau bawah umur kita hanyalah menjadi generasi penonton. Hanya bahagia menonton televisi.
Advertisement