Terlambat. Itulah yang saya alami saat melaksanakan perjalanan ke Kendari untuk mengikuti Perkemahan WiraKarya Nasional PTKI. Saya mestinya terbang jam 5.15 shubuh hari. Tetapi saya terlambat bangun. Mungkin lantaran kecapekan dari perjalanan mengikuti Seminar internasional Islam and Humanities di Grand Nanggroe, Banda Aceh. Saya mewakili Direktur Jenderal Pendidikan Islam sebagai Key Note Speaker. Saya diberi judul Islam, Sastra dan Masa Depan Kemanusiaan. Saya menyiapkan pidato yang terkait dengan pentingnya sastra bagi kehidupan umat manusia. Saya bercerita perihal petualangan saya menggandrungi sastra. Sastra nasional dan dunia. Sedari awal, umur kelas dua madrasah tsanawiyah saya sudah membaca Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, karya Buya Hamka. Konon, karya Hamka ini dipengaruhi oleh al Malanfuti, sastrawan Mesir yang terkemuka. Itulah sebabnya, di belakang hari, Buya Hamka dituduh sebagai plagiat oleh Lekra. H.B. jassinlah yang tampil membela habis- habisan Buya Hamka. Meskipun Antara jassin dan Buya ada polemik berkepanjangan termasuk dalam karya Jassin perihal Al Quran, Bacaan Mulia. Kembali kepada kasus terlambat. Karena keterlambatan tadi itu, maka saya harus membayar mahal. Saya harus membeli tiket dari Jakarta ke Makassar dengan penerbangan jam 11.00. Sebab, tiket yang tadi shubuh sudah hangus 50 persennya. Celakanya, tidsk ada lagi garuda yang connect dari Makassar ke Kendari. Pesawat yang saya tumpangi landing pukul 14.20 Sementara pesawat garuda ke Kendari sudah take off pukul 14.20. Saya harus berlari- lari di Bandara Sultan hasanuddin untuk memburuh waktu. Dan ternyata tidak mendapat tiket juga. Saya berpikir harus mencari flight yang lain. Pilihan saya ke maskapai Lion Air. Saya mencoba untuk mengadu nasib. Barangkali ada tiket yang dicancel atau penumpang yang batal berangkat. Saya menunggu hingga pukul 16.00. Beberapa kru Lion Air saya minta tolong semoga mereka sanggup membantu saya. Pikul 16 lewat, pesawat Lion Air sudah boarding. Saya tidak ikut. Selanjutnya, pilihannya ada berangkat malam ini dengan Lion Air oenerbangan terakhir, pukul 6.55. Saya terus melobby mereka untuk mendapat seat. Ternyata menjelang pukul 18.00 saya mendapat kepastian untuk mendapat seat. Hanya saja atas nama orang lain. Yang bersangkutan berhalangan berangkat. Saya berupaya untuk melobby kru Lion Air semoga tiket tersebut atas nama saya. Ternyata mereka tidak bisa. Walhasil, daripada tidak berangkat malam ini, dan beresiko tambah usang di Makassar, terpaksa saya mengambil tiket atas nama orang lain. Harapan saya, sanggup berangkat dengan selamat. Pihak kru berjanji saya diantar hingga ke pesawat. Benar saja yang bersangkutan mengantar saya, hingga lantai dua. Saya menciptakan surat pernyataan bahwa saya menggunakan tiket bukan atas nama saya. Dsn saya meminta beliau untuk membubuhkan tanda tangan. Dia pun tidak keberatan. Dan saya berangkat. Saya tersadar, maha benar Allah swt dengan firmannya. Agar insan itu senantiasa menghargai waktu. Sebagaimana firmannya yang artinya: ....Demi masa. Sesungguhnya insan dalam keadaan merugi. Kecuali orang- orang yang beriman dan bermal shaleh. Dan di antara mereka saling memberi nasehat untuk berbuat kebenaran dan berlaku sabar....Demikian peringatan Allah Swt dalam surah al- ' ashr. Betapa waktu yang mahal harganya. Waktu ialah sumber daya yang tak tergantikan. Pepatah arab mengatakan: al waqtu ka al saif. Iza lam taqtha' yaqtha'uka. Waktu itu menyerupai pedang. Apabila engkau tidak sanggup menebasnya, maka ia akan menebasmu. Manfaatkanlah waktu sebaik- baiknya. Kita jika mau sukses harus mempunyai anajemen waktu yang baik. Jadwal yang ketat. Upayakan setiap harinya, semua aktifitas direncanakan dengan dengan detail. Kunci sukses ialah kepandaian mengatur waktu. Semua sukses ialah mereka yang sangat ketat mengatur waktunya. Berbahagialah orang-orang yang menjaga waktunya.
Advertisement