-->

Puasa: Ibadah Personal

Puasa: Ibadah Personal
Puasa: Ibadah Personal
Puasa itu ialah ibadah yang bersifat personal. Sehingga dampaknya juga sanggup dirasakan secara sangat personal. Dengan puasa kita sanggup lebih ikhlas, lebih tulus, dan menjadi lebih produktif. Puasa tergantung bagaimana kita memaknainya. Dalam kitab Ihya Ulum al Din terdapat pembahasan perihal hati. Mengapa dikala kita shalat, kita sulit untuk berkonsentrasi. Padahal dengan shalat sebagai washilah, kita sanggup terhubung dengan Tuhan. Inna al shalat tanha ' an al fahsya wa al munkar. Lalu, mengapa shalat tidak memberi manfaat dalam kehidupan. Para shufi mempunyai pandangan tersendiri. Al shalat mikraj al mukmin. Imam al Ghazali mengupamakan hati menyerupai kotoran. Kalau ada kotoran, lalat tetap akan datang. Kita terus mengusir lalat tersebut. Lalat tiba begitu saja hingga kotoran tersebut dihilangkan. Hanya hati yang bersihlah yang sanggup menangkap signal- signal Tuhan. Hati yang bersihlah yang sanggup mencicipi dan sensitif terhadap penderitaan orang miskin. Dalam tradisi filsafat, insan mempunyai unsur lahut dan nasut. Unsur nasut selama ini terlalu banyak mendapat perhatian. Padahal, kita juga mempunyai potensi lahut. Ilahiyah. Man ' arafa nafsahu fa qad ' arafa rabbahu. Potensi lahut inilah yang sanggup menangkap signal- signal ilahiyah. Puasa itu bergotong-royong untuk memenuhi unsur lahut, keilahian. Agar puasa sanggup mencapai derajat taqwa. Kita berpuasa bergotong-royong untuk mencicipi kehadiran Tuhan. Sebab Tuhan itu Omnipresent. Tuhan Maha Hadir. Itulah sebabnya, unsur lahut harus terus dilatih. Tuhan selalu bersama kita, di mana pun kita berada. Tuhan selalu berada di sisi kita. Puasa itu sifatnya sangat personal. Puasa sangat privat. Kita oan terbiasa dengan out put. Pasca puasalah kita sanggup mencicipi manfaat puasa itu. Bagaimana kita sanggup mencicipi kehadiran kita. Puasa ini sangat relevan dengan integritas. Hati kita itu terdiri dari tiga lapis berdasarkan Prof Harun Nasution. Ada qalbun, ruhun, dan sirrun. Lapisan terluar ialah qalbun. Lalisan tengah ialah ruhun. Dan lapisan terdalam ialah sirrun. Sirrun tidak sanggup berfungsi dengan baik bila lapisan pertama dan tengah lagi kotor. Lalu, bagaimana caranya membersihkannya? Tentu dengan cara melakukan perintah Allah swt, dan menjauhi larangan. Kalau hati kotor, shalat dan ibadah kita hanyalah sebagai sebuah ritinitas. Inilah kelemahan umat Islam yang selama ini hanya melakukan ibadah sebagai rutinitas. Hanya mereka yang mempunyai pengabdian yang tinggi yang sanggup berkinerja tinggi. Inilah pokok- pokok pikiran yang disampaikan oleh Prof Kamaruddin Amin, M.a pada program bimbingan mental Diktis, di hotsl Salak, Bogor.
Advertisement