-->

Program Strategis Azerbaijan

Program Strategis Azerbaijan
Program Strategis Azerbaijan
Setelah bertemu dengan Direktur Indonesian center di ADU ( Azerbaijan Diller University) dan Direktur baku International Multicultural Center terdapat beberapa hal yang perlu dipertimbangkan untuk menjadi aktivitas strategis, sebagai berikut: 1. Perlu short course untuk penguatan academic writing. Sebab, nyatanya ada banyak sarjana yang lebih tertarik untuk menambah wawasan tanpa mengambil aktivitas kuliah, by course. Atau mereka membutuhkan wawasan pemanis untuk penguatan keilmuan mereka. 2. Penguatan joint research antar dosen. Dosen sanggup berkolaborasi dalam melaksanakan atau merampungkan penelitiannya dalam topik tertentu. Saya kira aktivitas menyerupai ini sudah sangat lumrah di Barat. Semakin banyak berkolaborasi dengan pihak luar, semakin tinggi kualitas akademik kajian seorang dosen. 3. Azerbaijan membutuhkan keterlibatan sarjana Indonesia yang mempunyai dasar pemahaman keagamaan yang mendalam-- berbasis keilmuan pesantren yang kuat-- untuk membantu pencerahan keagamaan. Di Azerbaijan, umat Islam sebanyak 97% tetapi sudah banyak anak mudanya yang sudah lupa ritual shalat. Barangkali alasannya yakni mereka terlalu usang dalam kekuasaan Rusia. Alumni Ma'had Aly sangat berperan untuk aktivitas ini. Sebab, sejarah keberagamaan Azerbaijan yang lebih mengedepankan esoterisme --semacam Ihya Ulumuddin Imam Al- Ghazali-- masih relevan hingga kini ini. Model keberagamaan yang cocok di Baku yakni keberagamaan yang mengedepankan harmoni antara eksoterisme Islam dan esoterisme. Sisi tasawuf dan fiqhi berpadu dalam satu tarikan nafas ajaran keagamaan. Patut dicatat bahwa Azerbaijan yakni kota daerah lahirnya tokoh- tokoh besar dunia, menyerupai Yahya Al- Bakwi dan sufi penyair Jalaluddin Rumi yang lahir di Balkh. 4. Belajar dari Azerbaijan yang sangat memprotek radikalisme agama dan ISIS. Pemerintah Azerbaijan memmiliki konsern yang sangat berpengaruh untuk memproteksi berkembangnya benih- benih radikalisme. Siapa pun yang masuk ke wilayah Azerbaijan niscaya mendapat protek yang sangat berpengaruh untuk persoalan radikalisme ini. 5. Dalam kaitan ini pula, barangkali perihal yang pernah dibahas mengenai pentingnya menciptakan Atase Pendidikan Keagamaan di negara-negara sahabat perlu diakselerasi lagi. Atase ini berfungsi untuk: (a) mengarahkan dan memantau perkembangan studi anak- anak Indonesia, (b) sebagai konselor bagi anak- anak Indonesia yang sedang mengalami persoalan di luar negeri, (c) sanggup pula mengontrol pergerakan pelajar dan mahasiswa Indonesia di negara tujuan studi, (d) melaporkan kepada Menteri peta dan isu- gosip ajaran Islam atau kehidupan keagamaan yang berkembang di sana. Pengalaman negeri Yaman yang hanya memilki Atase Sosial dan budaya. Mereka tidak sanggup melaksanakan pelatihan studi dan komunikasi yang efektif dengan mahasiswa Indonesia di sana. Atasenya tidak mempunyai kompetensi keilmuan yang sanggup menghubungkannya dengan para mahasiswa dan pelajar Indonesia di sana. Apalagi komunikasi dengan para masyayikh di Yaman. Akibatnya fatal, mahasiswa Indonesia terjebak di Sha'da sebanyak 150 orang. Dan barangkali, dikala mereka pulang ke Indonesia juga mengalami stress berat dan perlu pelatihan khusus semoga benih- benih radikal tidak disemai di Indonesia. 6. Barangkali untuk sementara waktu perlu ada moratorium -- meskipun tidak tertulis -- untuk studi di Arab Saudi atau negara- negara yang ditengarai radikal atau mengajarkan ekstrimisme. Pelru ajaran komprehensif dan langkah-langkah strategis untuk aktivitas ini.
Advertisement