-->

Umrah-2

Umrah-2
Umrah-2
Umrah-2 Kami berihram dari Jeddah. Kami mandi ihram. Kemudian menggunakan pakaian ihram dan berniat untuk melaksanakan umrah alasannya ialah Allah swt. Di tengah jalan, pak Sofyan, sopir banyak bercerita perihal suka sedih masyarakat Arab. Pemerintahannya sangat ketat dalam menjalankan aturan terutama untuk penduduk asing. Sementara untuk masyarakat Saudi orisinil menyerupai aturan tumpul bagi mereka. Apalagi, bagi masyarakat yang tergolong tua. Mereka lebih banyak mengemukakan alasan kalau kebetulan melanggar disiplin. Bahwa aku lebih duluan hidup dari Anda, kilanya kalau ditegur. Kami memang butuh untuk bekerja di Jeddah, kata Sofyan. Dulu, sewaktu masih di Indonesia, aku kesulitan memberi uang sejumlah 500 ribu kepada orang tua. Sekarang hingga 2 juta pun sanggup mengirim uang kepada kedua orang renta perbulan. Sekarang pemerintahan Saudi Arabiyah menyuruh masyarakatnya untuk bekerja keras. Raja Salman mempunyai kebijakan yang progresif. Sebab, orang Arab cenderung malas dan manja. Sekarang, akhir dari kebijakan tersebut, kita sudah melihat banyak anak muda arab yang rela menjadi pramusaji di restoran- restoran. Pemandangan yang sulit ditemukan pada masa-masa sebelumnya. Ada lagi yang menarik. Orang- orang Arab selama ini gemar mempunyai banyak anak. Banyak anak berarti banyak rezeki. Setiap anak ada jaminan dari pemerintah. Dalam perbincangan informal, poligami di Saudi Arabiyah bukanlah duduk kasus tabu layaknya di Indonesia. Ada insiden yang menarik dan sekaligus miris. Ketika kami bercanda dengan perempuan- perempuan Arab. Begitu kita melemparkan humor dan tertangkap tangan kita dari Indonesia, mereka eksklusif menyebut: Bogor, Puncak dan Indramayu. Sebagai orang Indonesia, bersama-sama kita tersinggung. Sebab, bahasa badan mereka tampaknya merendahkan. Terbayang dalam benak saya, Bogor, Puncak dan Indramayu pastilah terkait dengan kawin mut'ah (kontrak) dan pengiriman tenaga kerja wanita. Semoga kita sanggup mengirim tenaga kerja yang berskillfull supaya bangsa kita bermartabat di luar negeri. Memang kita prihatin dengan nasib bangsa kita. Ada beberapa hal yang sulit dijelaskan. Seperti air aqua jauh lebih murah di Medinah daripada di Jakarta. Padahal, Saudi Arabia hanyalah negara dengan gurun pasir. Sumur Zam- Zam satu- satunya sumber air yang melimpah. Sementara Indonesia hampir 80 persen ialah laut. Dan semua daratannya mempunyai sumber air yang melimpah. Ada apa dengan sumber air higienis yang demikian penting untuk hajat manusia, kok mahal. Apakah teknologi air higienis di Indonesia tidak canggih. Mengapa mahal? Saya belum sanggup mendapat tanggapan yang memuaskan. Selanjutnya, siapa pun yang melaksanakan perjalanan ke luar negeri lewat bandara di cengkareng atau bandara lainnya di tanah air, tiketnya rata- rata mahal. Tetapi, bila seseorang sedikit saja mau transit di bandara Kuala Lumpur, maka harga tiket menjadi miring. Harga tiket sanggup didapatkan separoh harga lebih murah dari bandara Jakarta. Hampir semua penerbangan dengan banyak sekali maskapai internasional. Ini betul- betul mengherankan. Apakah negara ini masih salah urus. Mungkinkah pemerintah Malaysia memberi subsidi khusus untuk meningkatkan daya tarik negaranya supaya menjadi destinasi internasional. Mengapa negara jiran selalu saja mengungguli kita? Apa yang salah dari cara kita berbangsa dan bernegara? Perlu revolusi mental.
Advertisement