Sekitar pkl 17.15 kami datang di Mekkah. Azan Isya berkumandang, ketika di mana kami masih saling mencari dengan mas Nurul Aizat. Saya menderek koper besar. Mas Fikri menderek koper berukuran sedang sambil menentang rangselnya. Saya melewati jalan- jalan padat menembus jamaah Isya. Saya sedang di toko Jam Rolex, sms saya via WA. Tidak usang kemudian, mas Nurul muncul dari belakang sambil menyapa, pak Zain! Alhamdulillah kami eksklusif mencari jalan menuju Pullman Zam- Zam Tower. Naik ke lantai P 11 resepsionis. Kami mendaftar, dan tidak usang kemudian, kami diberi kunci hotel, nomor 1732. Kami masuk, lalu keluar lagi untuk bersantap malam atas nama Patria wisata. Tidak usang kemudian, kami ditunjukin jalan menuju Baitullah, jikalau sewaktu- waktu kami mau melakukan thawaf. Kami putuskan, tengah malam atau shubuh dini hari, kami mau thawaf. Alhamdulillah, sekitar jam 3 dini hari saya bangkit shalat tahajjud. Sekitar jam 4 shubuh kami beranjak dari hotel untuk menuju Masjidil Haram yang hanya beberapa meter dsri daerah kami menginap. Alhamdulillah. Syukur kepada Tuhan atas nikmat beribadah ini. Saya eksklusif menuju pintu yang terdekat menuju Ka'bah. Saya dan Fikri eksklusif melakukan thawaf. Ada tragedi yang hampir kami terjepit di tengah orang- orang Afrika yang gede itu. Kami harus bergegas keluar dari lautan insan yang sedang memperebutkan hajar al- aswad. Kami lagi semeter sudah dapat mencium hajar al- aswad. Tetapi kami tidak kuasa menahan dorongan orang- orang besar tadi. Alhamdulillah, kami dapat keluar dan eksklusif menuju Maqam Ibrahim. Selanjutnya, kami berbelok masuk ke Hijr Ismail. Dengan tujuan untuk melakukan shalat sunnat hajat. Tetapi insan sudah sangat padat terpaksa kami bergeser. Dan sambil menatap Multazam, kami melantunkan do'a- do'a khusus untuk keselamatan dunia dan akhirat. Do'a sapu jagad, Rabbana atina fi al- dunya hasanatan wa fil darul abadi hasanat- an wa qina 'azab-an al- nar. Demikian selanjutnya, do'a- do'a meluncur begitu saja dari verbal para muthawwifin. Ada hal yang menarik, sambil tengok kanan- kiri, sesekali ada yang melirik ke arah Baitullah sambil memotret rumah Tuhan itu. Ada juga yang menjalankan rekaman atau video via hand phone. Ada juga yang sibuk melantunkan ayat- ayat suci al- Qur'an terjemahan bahasa kebangsaan masing- masing. Bahkan ada jama'ah yang sangat khusyu' membaca do'a -do'a tertentu dengan goresan pena tangan yang sudah lusuh. Ada juga yang memaksakan diri untuk mencium hajar al- aswad. Meskipun terpaksa berebutan dengan ratusan orang lainnya yang juga sudah usang menunggu giliran mencium kerikil hitam tersebut. Saya tidak tahu mengapa hajar al- aswad demikian mempunyai daya tarik bagi muthawwifin. Apakah di sana ada magnet bagi jiwa para peziarah. Atau ini bukti kesuksesan para penganjur bisnis haji dan umrah. Bahwa mencium hajar al- aswad yakni bab penting dalam rangkaian thawaf. Padahal para askar sudah berteriak, haram. Musyrik. Dan kata- kata sejenisnya. Atau memang umat Islam belum sepenuhnya rasional. Unsur- unsur magi pada suatu benda masih diyakini adanya. Kalau demikian, perlu penelitian yang komprehensif mengenai pentingnya pendalaman tauhid umat.
Advertisement